• Perkembangan Mode Pria di Indonesia (bagian 2)


    Perkembangan Mode Pria di Indonesia (bagian 2)

    Dekade 80-an merupakan era awal mula geliat fashion pria di Indonesia


    Pada era 80an, fashion dunia tampil dengan gaya urakan. Hal ini terlihat dari busana hippie yang sempat menjadi trend di Eropa dan Amerika. Namun, di Indonesia pada saat itu justru berbanding terbalik. Busana pria pada saat itu akhirnya menemui titik terang. Terbukti dari munculnya para perancang muda di awal era 80an.

    (Baca juga artikel:
    Tips Bijak Belanja Fashion bagi Pria)

    Samuel Mulia, seorang pengamat mode dan gaya hidup mengungkapkan bahwa saat itu memang sudah ada beberapa perancang busana untuk pria seperti Ramli, Itang, Yunasz, dan Alex AB. Namun pada awal kemunculannya masih berdampingan dengan lansiran busana wanita. Saat itu, koleksi busana pria hanya berkisar antara 30 sampai 50 persen dari koleksi busana yang ada. Almarhum Ramli mengawali mode pria dengan aksen bordir untuk busana pria. Karyanya banyak dipengaruhi dengan gaya betawi serta material batik.


    Alamrhum desainer Ramli

    Berkembangnya dunia fashion untuk pria di Indonesia pada saat itu sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Pasalnya, pusat perbelanjaan dan hiburan malam seperti diskotik dan klub baru banyak bermunculan. Di tempat inilah banyak kaum urban muda sering berkumpul. Muara Bagdja juga menambahkan bahwa pada saat itu Sarinah, Ratu Plaza, dan Pasaraya baru dibangun dan merek-merek fashion luar negeri akhinya masuk ke pasar Indonesia meski masih sedikit jumlahnya, seperti Charles Jourdan.

    (Baca juga artikel: Cara Terbaik Mengenakan Motif Flora pada Fashion Pria)


    Panca, seorang koreografer fashion show tanah air yang mengawali karirnya sebagai penari dan model juga mengungkapkan hal serupa. Saat itu beliau dan teman-temannya sudah mulai sering berbelanja baju karya desainer lokal seperti Itang Yunasz, Alex AB, dan Robby Tumewu. Setelah show, biasanya mereka seringkali diberikan beberapa buah baju oleh desainernya. Beliau juga menambahkan bahwa dirinya juga sudah mulai membeli baju dengan merek desainer internasional. Biasanya ia membelinya dengan cara titip pada keluarga dan teman yang sedang pergi ke luar negeri. Baju tersebut juga bisa beliau dapatkan melalui butik multibrand yang sedang naik daun saat itu.



    Di era ini, majalah wanita Femina turut mewarnai dunia fashion Indonesia dengan melahirkan perancang busana muda melalui ajang Lomba Perancang Mode yang memberikan rancangan kontemporer modern dan segar. Jebolan LPM pada saat itu seperti Poppy Dharsono, Itang Yunasz, dan Alex AB turut memberikan kontribusi cukup besar dalam perkembangan busana pria saat itu.

    Meskipun masih terbatas, Poppy Dharsono telah memproduksi busana pria pada saat itu. Sedangkan Itang Yunasz selalu menciptakan busana pria yang cukup variatif dengan permainan detail, bordir, hingga elemen pendukung lainnya. Dalam membuat busana pria, Itang selalu memikirkan tentang celana, sepatu, hingga aksesorinya.

    (Baca juga artikel: Uniknya Kolaborasi Fashion Gucci dan Snoopy)


    Pertumbuhan mode pria di Indonesia dipengaruhi oleh kemunculan para perancang muda. Perancang muda inipun akhirnya membentuk sebuah perkumpulan bernama IPBMI atau yang sekarang lebih dikenal dengan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI). Perancang muda yang berasal dari lulusan sekolah mode di kota kapital seperti Milan, Paris, dan London juga turut bergabung. Mereka banyak membawa pengaruh luar untuk garis rancangan busananya. Banyak diantara mereka yang sudah aktif memproduksi busana, bahkan seringkali hadir dalam acara peragaan busana di Milan dan Paris untuk mencermati tren ke depan dan juga belanja busana pria beremerek.

    Sarinah, salah satu pusat perbelanjaan di Ibukota menyediakan gerai untuk perancang tanah air, salah satunya Itang Yunasz. Dengan demikian, tidak heran jika busana pria karya perancang lokal mudah didapatkan konsumen. Saat itu juga tersedia busana pria siap pakai dalam jumlah yang banyak serta berbagai ukuran.


    Koleksi pakaian pria Spring/Summer 2016 dari label Itang Yunasz


    Dalam perkembangan fashion pria di era 80an ini, kebutuhan akan model pria pun semakin dibutuhkan untuk mendukung presentasi busana. Media cetak seperti majalah juga turut membantu para desainer untuk mempromosikan busana karyanya kepada khalayak. Majalah lokal ini juga turut membantu para desainer untuk menemukan model pria dengan pilihan yang lebih banyak melalui ajang pemilihan Cover Boy yang diselenggarakan oleh majalah wanita, yakni Gadis.

    (Baca juga artikel: 5 Benda Fashion yang Wajib Ada di Lemari Pria)

    Melihat mulai maraknya gaya hidup pria, majalah wanita pun mulai menerbitkan edisi khusus untuk pria meski hanya terbatas setahun dua kali. Majalah khusus pria juga mulai bermunculan seperti HaiĀ  yang diperuntukkan untuk remaja. Itang mengatakan bahwa dulu majalah Hai pernah mengadakan fashion show akbar bertajuk Hai Look yang diselenggarakan di Gedung Sate, Bandung. Beliau menyelenggarakan acara ini bersama dengan tim editor majalah Hai. Dalam acara tersebut ada 200 model fashion show yang siap membawakan busana rancangan Edward Hutabarat dengan koleksi Ulos Tapanulinya, Susan Budiharjo, Robby Tumewu serta Itang Yunasz.

    Pada akhirnya acara ini banyak melahirkan model priayang yang kini sudah tak asing lagi namanya seperti Yongki Komaladi yang sekarang dikenal sebagai desainer sepatu, Darwis Triadi yang sekarang lebih dikenal sebagai fotografer, Atalarik, Donny Damara, Farhan, serta Tora Sudiro dan masih banyak yang lainnya.


    Baca juga artikel:

    Perkembangan Mode Pria Indonesia - Bagian 1
    Tips Fashion Pria untuk Tampil Stylish di Malam Hari
    Bagaimana Cara Belanja Fashion yang Beretik
    a?




    TEKS: HAPPY FERDIAN
    FOTO: DOK. ESQUIRE


    TAG : #fashion # gaya hidup # pengetahuan # dunia pria # style
    loading...
    loading...

- MORE STORIES -




Entertainment  16/5/2017

6 Langkah Cerdas Memilih Bisnis Waralaba

Bagi mereka yang belum berpengalaman, berbisnis dengan cara waralaba dinilai paling aman.


Entertainment  10/5/2017

Apakah Anda Bahagia di Tempat Kerja?

Coba renungi kembali seberapa jauh Anda telah berkarier