| |
| |
|
|
Post on 20/10/2009
Hermawan Kartajaya
Ia adalah pria di belakang sukses Mark Plus Inc, sebuah perusahaan yang mengklaim diri sebagai The First ASEAN Marketing Professional Services Firm. Didirikan 19 tahun lalu, ketika area marketing belum terlalu populer. Sekarang, perusahaannya sudah berkembang pesat di tujuh kota: Jakarta, Bandung Semarang, Surabaya, Medan, sampai di luar negeri, Singapura, dan Kuala Lumpur.
Apa yang Anda lakukan untuk me-refresh image supaya tetap segar di tengah tokoh-tokoh marketing baru yang terus bermunculan?
Kotler sampai membuat 6 buku dengan saya karena saya selalu menyodorkan ide-ide fresh yang selalu berangkat dari model yang sama. Sekarang ini, the world is round, the market is already flat. Dengan adanya teknologi web 2.0 dan sebagainya, cara marketing di 2020 akan berubah total. Saya seorang visioner, jadi saya melihat perkembangan teknologi globalisasi dan selalu berpikir ke depan. Saya selalu mengaitkan antara kegiatan sosial dan bisnis dengan marketing. Begitulah cara me-refresh diri saya.
Soal inspirasi dan ide. Bagaimana Anda mendapatkannya?
Ide bisa datang dari mana saja. Setiap detik saya selalu berpikir: marketing is my blood, marketing is my life, marketing is my soul. Mimpi pun mimpi marketing. Pada waktu traveling, mandi, jogging, bisa timbul ide. Meeting informal biasanya malah membuat otak buntu karena terlalu banyak orang ngomong. Tapi saya terlatih untuk berpikir sambil ngomong. Otak saya jalannya lebih cepat dari omongan.
Apa bedanya treatment marketer kepada customer, dulu dan sekarang?
Ada buku yang sangat hebat, judulnya The World is Flat. Secara fisika dunia masih bulat, tapi market is already flat. New York-Jakarta beda 12 jam. Itu kan separuh bumi. Tapi apa yang terjadi di New York, detik ini bisa kita lihat di internet dan CNN, seolah-olah tidak ada jarak. Saya mengatakan di dalam buku terbaru ini, kalau mau melakukan marketing tidak boleh memosisikan diri di atas customer lagi. Kita ini sama dengan customer. Dulu customer lebih bodoh daripada marketer. Kita bermodalkan product knowledge sudah cukup. Sekarang customer sudah tahu product dan competitor knowledge.
Konsep baru Anda di dunia marketing?
New Wave itu horizontal. Sekarang saya punya 12 C: communication, confirming, carifying, coding, crowd- combo (co-creation, currency, communal activation conversation), commercialization, character, caring, dan collaboration. C pertama saya adalah community, jadi bukan mencari segmen. Kita harus find out the right community. Di segmen, orang tidak saling mengenal, namun di community, anggotanya saling mengenal dan berinteraksi. Lalu C yang kedua adalah confirming. Jadi jika dulunya segmentation targeting (di segmen pasarnya, kemudian di target), sekarang kita mencari the right community dan di confirm. C ketiga adalah clarification (menggantikan positioning) ini mengenai who we are. Dulu diferensiasi ditonjolkan supaya masyarakat tidak dianggap komoditi, sekarang kita sebut kodifikasi atau standarisasi DNA. Authenticity produk harus dikodifikasikan. Kemudian yang ke -5, 6, 7, 8 dulunya adalah marketing mix (product, price, place, promotion), maka sekarang produk itu harus co-creation. Misalnya, isi majalah yang terbaik dihasilkan dari hasil mengobrol dengan komunitasnya. Price-nya menjadi currency, harga based on the value. Kemudian channel menjadi communal activation yaitu bagaimana kita mengaktivasi komunitas, dan promotion menjadi conversation. C ke-9 selling menjadi commercialization. Dulu selling itu “nembak”, sedangkan commercial transaction, artinya selalu ada nilainya untuk kedua belah pihak. Yang ke-10 adalah character sebagai pengganti istilah branding. Ke-11, service menjadi care, dan ke-12, process menjadi suatu collaboration. Intinya saya kembali menjadi pionir karena mengubah konsep marketing yang dulu nembak ke bawah (konsumer menjadi victim). Konsep marketing seperti itu akan habis di tahun 2020.
|
|
| |
|
|
| |
 |
Menghapus Noda Merah
Dalam operasi terhadap suporter sepakbola tiga bulan lalu, aparat kepolisian DKI Jakarta menyita puluhan senjata tajam, mulai dari celurit, parang, pedang Samurai, puluhan rantai, sampai sabuk berkepala besi. Selang seb...
Bersih-Bersih Jejak Digital
Foto dengan gambar vokalis band Gigi, Armand Maulana, beredar di internet April lalu. Armand mengenakan kaos berwarna merah bertuliskan “We'll Rather Walk Alone!” dengan gambar burung yang dihujam sebuah tri...
Benteng Baresi
Bagi Anda penggemar sepakbola pasti mengenal tokoh satu ini. Ia adalah “penjaga benteng” terakhir (sebelum kiper) di pertahanan AC Milan dan Italia pada era ‘80an hingga ‘90an. Hampir setiap penye...
|
|
|
|
|