Di ranah sepakbola, Argentina terkenal sebagai tim dengan kemampuan menyerang. Maka sudah mahfum jika salah seorang mantan pemainnya -yang sekarang beralih menjadi pelatih- Maradona mendapat julukan Hand of God. Meski kini pamornya tak secemerlang dulu, namun sebagai sebuah tim, Argentina masih dielu-elukan suporternya.
Begitu pula dalam hal kuliner. Kelezatan makanan Argentina masih menjadi incaran para pencinta kuliner, khususnya daging merah. Tak heran karena memang yang terkenal dari negeri Tango ini adalah variasi menu steak. Dan ada hubungan antara daging merah dengan agresivitas pesepakbola Argentina. Konon salah satu alasan filosofis yang dipercaya oleh para vegetarian , daging merah mampu meningkatkan agresivitas seseorang, yang secara tidak langsung juga meningkatkan emosi.
Argentina memang dikenal sebagai negara pengonsumsi daging merah tertinggi. Oleh karena itu mereka sangat memerhatikan pemeliharaan ternak demi mendapatkan kualitas daging sapi unggul. Konon untuk mendapatkan daging sapi terbaik, ternak harus memenuhi kualitas 400 days grain fed. Dengan kata lain, ternak hanya diberi pakan biji padi selama kurang lebih 13 bulan. Tak hanya pemeliharaan, proses memotong ternak untuk kemudian dipilah berdasarkan bentuk dan jenis daging pun turut diperhatikan. Misalnya sirloin yang berasal dari daerah sekitar otot pinggang. Sedangkan rib eye didapat dari daging yang memanjang hingga ke bagian punggung sapi.
Sesuai kultur Argentinian yang kekeluargaan dan senang kumpul-kumpul, umumnya steak dimasak menggunakan asado. Alat panggang ini menggunakan konsep api terbuka berbahan bakar kayu arang. Teknik memanggangnya disebut parilla. Agar lebih optimal, daging hanya dibumbui garam dan lada. Sedangkan tingkat kematangan disesuaikan dengan selera. Meski sebenarnya tingkat kematangan medium rare direkomendasikan agar kaldu daging yang juicy tetap terasa.
Seperti yang dilakukan oleh Brasas, restoran yang menyuguhkan steak khas Argentina. Salah satu variasi steak yang ada adalah Asado de Tira. Menggunakan short ribs seberat 480 gram, daging ini diklaim berkualitas setara 200 days grain fed. Di negara asalnya, chimmicuri biasa dihidangkan sebagai pelengkap steak untuk menambahkan rasa pedas. Saus ini terbuat dari campuran oregano, bawang putih, bubuk paprika, minyak zaitun, daun parsley, dan sedikit vinegar untuk menambah cita rasa. Jika menyukai daging dengan tekstur yang lebih lembut, Rib Eye Wagyu dan Bife de Chorizo juga bisa dijadikan opsi. Keduanya menggunakan daging jenis wagyu dan sirloin. Lengkapi pengalaman bersantap Anda dengan segelas mate, minuman berkafein khas Argentina yang memiliki rasa antara teh hijau dan kopi. Sekarang dijamin lidah Anda akan bergoyang Tango! (SAR)