Foto dengan gambar vokalis band Gigi, Armand Maulana, beredar di internet April lalu. Armand mengenakan kaos berwarna merah bertuliskan “We'll Rather Walk Alone!” dengan gambar burung yang dihujam sebuah trisula. Foto itu ternyata membuat penggemar klub sepakbola Liverpool di Indonesia marah. Kalimat pada kaus itu menyindir slogan klub Liverpool 'You'll Never Walk Alone'. Sementara sang burung adalah Liverbird, logo tim sepakbola asal Inggris itu.
Sontak akun Twitter milik Armad dihujani hujatan. Bahkan seseorang menuliskan komentar yang cukup “panas” karena mengikutsertakan istri Armand. Komentar ini segera memancing emosi vokalis berambut gondrong ini. "Maaf yg nmnya.....tlg hub sy kembali di tweet krn ini udah pelecehan kalo tdk sy akan pk pengacara," tulis Armand di akunnya.
Kasus Twitter Armand hanyalah satu diantara banyak kasus jejaring sosial yang terjadi di tanah air. Anda mungkin masih ingat peristiwa tulisan di status motivator Mario teguh yang dianggap sebagian orang melecehkan wanita, sementara artis Luna Maya hampir dibawa ke meja hijau karena statusnya yang menyerang infotainment. Sampai kini, kita pun mungkin masih mengulum senyum bila mengingat peristiwa Evan “Brimob” di Facebook yang kariernya di kepolisian terancam berkat sepenggal tulisan di statusnya.
Berbagai situs maupun layanan jejaring sosial memang cukup laris manis penggunaannya di Indonesia. Berbagai hasil survei memperlihatkan jumlah pengguna Facebook dan Twittermasuk dalam deretan top jumlah pengguna terbesar di dunia, walau dengan peringkat yang berbeda-beda. Firma strategi marketing Candytech lewat situsnya facebakers.com yang mengkhususkan diri dalam menganalisa Facebook, akhir tahun lalu menempatkan Indonesia di urutan ketiga negara dengan jumlah pengguna dengan capaian lebih dari 23 juta pengguna. Angka yang besar juga terjadi untuk pengguna Twitter. Data situs Sycomos pada akhir tahun lalu Indonesia menunjukkan 5,6 juta pengguna layanan ini di tanah air.
Sayangnya, besarnya jumlah pengguna ternyata belum diiringi dengan kesadaran akan dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Hasil survei yang dilakukan Masyarakat Internet Indonesia (Master), Maret lalu misalnya, memperlihatkan 58 persen dari peserta survei belum sadar dan tidak sadar (total 58%) akan dampak negatif jejaring sosial. Survei ini melibatkan 1000 peserta di 10 kota besar di tanah air.
Kasus Armand, Mario, Luna, terlepas dari kubu mana (pro atau kontra) yang Anda dukung, bisa jadi memperlihatkan dampak tersebut. Dunia maya lewat jejaring sosial menjadi dunia yang hampir tidak ada sensor dan membiaskan batas antara dunia pribadi dan umum.
Penyensor terbaik tentu diri sendiri. Blogger senior Enda Nasution pernah menulis untuk Esquire bahwa di akun pribadi, penggunalah yang dapat mengontrol informasi yang ada di dalamnya. “Berapa banyak yang ingin dibagikan dan berapa banyak yang ingin disimpan,” tulisnya.
Lalu, bagaimana jika kita sudah terlanjur menjadi penyensor yang teledor sehingga membuat “masalah” di dunia maya? Apa yang bisa kita lakukan jika akun kita sudah dibanjiri sumpah serapah komentar orang? Hal ini tentu tidak bisa dianggap enteng. Di Amerika, banyak head hunter yang memeriksa calon eksekutif prospektif lewat “jejak” internetnya. Bisa dibayangkan jika kemudian mereka menemukan bahwa sang calon ternyata kerap bermasalah di dunia digital.
Merespon feedback yang kita terima tentu menjadi keharusan. Diam, atau bahkan hingga menutup akun yang kita miliki bukan hal yang strategis. Enda menyontohkan kasus Mario Teguh yang sempat menutup akun Twitter miliknya karena merasa banyak posting yang berbahasa tidak sopan. “Kalau banyak dikomentari dengan kata-kata kasar, ini sebenarnya sudah biasa dalam dunia internet yang memang sudah seperti hutan belantara ini,” jelas Enda.
Namun hal yang perlu diperhatikan sebelum merespon adalah mengidentifikasikan jenis feedback atau komentar yang telah kita terima (baca boks Saatnya Bertindak!). “Komentar negatif datang dalam bermacam jenis. Kita harus meresponnya sesuai dengan jenisnya,” ungkap Josh Catone dari Mashable, blog profesional di Amerika yang fokus kepada permasalahan dunia Web 2.0 dan media sosial.
Merespon dengan mengklarifikasi permasalahan akan menjadi bentuk perbaikan. "Berikan klarifikasi Anda, entah itu di post, response, atau comment, sehingga pembaca dapat melihat dari sisi yang lain," jelas Lyn Mettler, pendiri Step Ahead Web Strategies yang bergerak di bidang reputasi online. Lyn menggarisbawahi bahwa klarifikasi harus dilakukan dengan segera, jujur, jangan menyalahkan orang lain dan upayakan tetap tenang. "Jangan emosional, karena kebanyakan para kritikus 'langganan' di dunia maya akan cepat pindah ke target cacian lainnya dengan cepat," sambung Lyn.
Beberapa usaha lain yang patut dicoba menurut Lyn adalah dengan meminta pertolongan teman. Menurutnya, dukungan yang diperlihatkan pihak ketiga akan relatif lebih dipercayai daripada Anda membicarakan diri sendiri. Mau usaha yang lebih “serius”? Di Amerika sudah mulai banyak berdiri perusahaan pengelolaan reputasi online. ReputationDefender misalnya. Dengan beaya jasa sekitar 100-500 dolar AS, mereka akan mencoba mempublikasikan informasi yang positif dan akurat tentang diri Anda sehingga, paling tidak, tidak ada informasi yang merugikan di halaman pertama hasil pencarian nama Anda di Google.
Berbagai upaya di atas memang belum tentu berhasil mengembalikan citra diri Anda. Namun jika punya kesempatan "menyapu" lantai cyber Anda yang kotor, kenapa tidak?