Dalam operasi terhadap suporter sepakbola tiga bulan lalu, aparat kepolisian DKI Jakarta menyita puluhan senjata tajam, mulai dari celurit, parang, pedang Samurai, puluhan rantai, sampai sabuk berkepala besi. Selang sebulan berikutnya, razia sejenis kembali menemukan ragam senjata berbahaya, ditambah onderdil sepeda motor, batang bambu, dan botol-botol minuman keras. Saat pertandingan antara Persija dan Persib di Gelora Bung Karno beberapa saat lalu, isu senada kembali berhembus. Kali ini diimbuhi aksi membajak kendaraan umum demi mendapatkan fasilitas transportasi. Deretan hal itu semakin mencoreng citra suporter sepakbola nasional yang sudah identik sebagai pemicu aksi kekerasan.
Esquire menemui dua orang supporter, Nanang,18 dan Erik, 22 (bukan nama sebenarnya) yang mengaku pernah terlibat tawuran antar suporter. “Sebetulnya saat berangkat, tidak ada rencana mau berantem. Soal bawa senjata, itu hanya untuk jaga-jaga kalau diserang kelompok lain,” ujar Erik. Hal itu diamini Nanang, yang mengaku kerap membawa senjata kecil seperti obeng atau linggis kecil ketika menonton pertandingan bola . “Kadang memang dianjurkan oleh koordinator daerah sini yang kami anggap ketua rombongan,” sambungnya. Senjata yang dibawa biasanya tidak pernah dibeli secara khusus, juga tidak ada yang menyediakan.
Keduanya mengaku tidak pernah memulai perkelahian di stadion maupun di luar stadion. “Nggak tahu darimana, biasanya kalau sudah rusuh, ya langsung ikut aja. Sebisa mungkin, daripada bertahan lebih baik menyerang,” ungkap Nanang. Sementara menurut Erik, terlibat dalam perkelahian antar suporter merupakan bentuk solidaritas. “Masa teman diserang kita diem aja. Biasanya masalahnya bukan cuma skor, tapi sudah dendam. Kemarin teman kita digebukin, hari ini harus dibales!” tandasnya.
Wajah sepakbola nasional memang masih karut marut. Mulai dari pengelolaan organisasi induk, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), kasus suap, profesionalisme pemain, sampai aksi kekerasan antar suporter yang pernah dilakoni Nanang dan Erik. Setiap pertandingan sepakbola digelar, masyarakat kerap diselimuti kekhawatiran akan pecahnya keributan di jalan. Petugas keamanan bersiaga penuh, aroma ketegangan tersirat keras. Suporter pun dicap sebagai “kambing hitam” pelaku kerusuhan. “Stigma telah tergores, bahwa suporter adalah himpunan orang-orang dungu, fanatisme sempit, emosi yang mudah terbakar, agresif, dan destruktif,” ujar Bambang Haryanto, suporter sepakbola pencetus Hari Suporter Nasional (12 Juli) yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Semakin panasnya aksi brutal para suporter ini juga ditanggapi oleh pengajar Sosiologi Bisnis dan Media dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Bambang Prihandono, yang sedang melakukan riset tentang kekerasan suporter sepakbola nasional. Menurutnya, dunia sepakbola menampilkan realitas sosial masyarakat. “Seperti diungkapkan sosiolog Bourdieu (Programm fuer eine Soziologie des Sports, 1992), sepakbola tak hanya sebuah permainan serius, lebih jauh lagi menampilkan struktur masyarakatnya sendiri. Artinya, aksi kekerasan harus dilihat sebagai persoalan sistem sosial masyarakat kita,” ujarnya. Menurutnya, dari pondasi tesis itu dapat dipahami bahwa kekerasan tidak bisa hanya dilihat sebagai akibat dari variabel kepalaran, kemiskinan, dan dunia preman kota.
Komentar senada datang dari Bambang Haryanto. Ia menilai faktor sosiokultural masyarakat Indonesia lemah dan belum komprehensif. “Kalau pun ada sangsi, masih tanggung. Penyelesaiannya tidak total dan menyeluruh. Gerakan dari pihak suporter sendiri, yang sebetulnya paling penting, masih belum kelihatan,” timpal pria yang menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI) ini.
Menanggapi hal ini, Chairul Ichsan, Kepala Divisi Humas Pusat JakMania, sebuah organisasi penggemar tim Persija Jakarta angkat suara. Dalam organisasi kami, ada pengurus pusat dan koordinator wilayah (korwil) yang sudah berada lebih dari 60 cabang tingkat kelurahan. Korwil inilah yang memobilisasi massa dan mengatur ketertiban dari masing-masing wilayah. Kepada anggota resmi kami tidak akan melakukan kekerasan. Kalau pun terlibat, akan ada sangsi tegas dari organisasi. Kami juga tidak ingin kekerasan terus terjadi dan merusak citra suporter sepakbola nasional,” ujar Chairul.
Saat ditanya tentang beberapa anggota JakMania yang terlibat kekerasan saat menyaksikan pertandingan langsung di stadion, ia menyatakan bahwa kebanyakan yang terlibat bukan anggota resmi alias partisipan, sehingga mereka memang tidak terakomodasi aturan organisasi. Menurutnya kekerasan terjadi karena dipicu penonton usia 10-20 tahun yang kebanyakan datang ke stadion karena perkara aktualisasi diri. “Bagi mereka, berkumpul di stadion merupakan wadah kedua untuk merokok, minum minuman keras, pacaran, sampai berantem. Sepakbolanya sendiri nomor sekian,” ujar pria yang akrab disapa Chibom ini.
Analisa Chairul tentang rentang usia pemicu perkelahian itu dibenarkan Bambang Haryanto. “Kebanyakan kerusuhan dimulai dengan suporter di rentang usia itu. Mereka masih berada pada masa ingin menunjukkan bahwa mereka superior. Berdasarkan pengalaman saya, penonton dari kelas menengah di rentang usia lebih matang cenderung lebih santun,” timpal Bambang. Selain itu, masalah lain adalah budaya primordialisme atau kesukuan yang kental di Indonesia dan soal kerumunan massa. “Ada teori klasik yang menyatakan bahwa dalam sebuah kerumunan, otak itu menghilang, sisanya hanya tangan. Teori ini tidak hanya berlaku dalam sepakbola, tapi juga dalam dinamika kehidupan beragama sampai rapat atau sidang DPR,” ujarnya disambung tawa ringan.
Dari sisi psikologis, psikiater Martin Plant dari Edinburgh University menyatakan bahwa salah satu elemen peretas kerusuhan adalah faktor deindividualisasi. Sekumpulan orang melebur jadi satu komunitas yang membawa kepentingan bersifat massal. Saling ejek dan sensitivitas akibat pelecehan pun kerap menjadi pemicu kepentingan membela diri secara kelompok dan spontan. Selain itu ada pula faktor dehumanisasi. Filosofi permainan sepakbola yang sarat benturan, menggiring kolektivitas persepsi untuk adu tangguh lewat bentrokan fisik.
Dalam terminologi kekerasan, kontak fisik dalam permainan yang diimbangi teknik dan aturan hangus tak berlaku. Terlepas dari dua faktor itu, fanatisme hingga suasana menonton pertandingan yang padat dan cenderung panas berperan meningkatkan adrenalin dan agresivitas pemain maupun penonton. Contohnya, risiko kerusuhan di stadion lebih besar ketimbang gelaran “nonton bareng” di tempat terpisah.
(Baca artikel lengkapnya di majalah Esquire edisi Juni 2010)