HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 05/05/2010
Revitalisasi untuk Perdagangan Bebas Asean dan China

Teks: Hartanto Edhie Wibowo

Sedemikian hebatkah dampak Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) bagi keruntuhan pondasi ekonomi Indonesia?

Pertanyaan ini terus berembus seiring berlakunya kesepakatan dagang tersebut sejak awal tahun 2010. Banyak kalangan beropini minor dan pesimistis terhadap daya saing Indonesia terhadap produk China yang masuk ke pasaran dalam negeri. Menurut saya, sikap pesimis terhadap peliknya efek ACFTA ini hanyalah ratapan yang kian memperlemah mental kita dalam bersaing dan beradaptasi dalam domain ekonomi regional dan global. Presiden SBY sendiri juga mengakui bahwa ada berbagai masalah di balik kesepakatan perdagangan bebas itu, diantaranya tidak semua sektor industri di dalam negeri siap berkompetisi dalam iklim ACFTA. Dalam pelbagai lini produksi seperti tekstil, garmen dan non-migas, misalnya, kita memang menghadapi risiko besar dengan hadirnya produk China. Meski begitu, mencabut kesepakatan seperti yang diserukan sebagian orang, bukanlah langkah yang tepat dan hampir tidak mungkin dilakukan. Betapapun besarnya dampak masuknya produk China bukan berarti prospek ekonomi nasional tertutup sama sekali.

Rakyat membutuhkan suntikan semangat dan optimisme dalam menghadapi kondisi pasar kontemporer. Hal ini yang dilakukan presiden di tengah kegamangan yang dirasakan rakyat. Pada 25 Januari silam ia memaparkan beragam peluang yang bisa dimanfaatkan dari ACFTA. Mengutip paparan presiden, sepanjang tahun lalu nilai ekspor Indonesia ke China makin kuat, bahkan melampaui 30 juta dolar AS. Melihat angka ini, artinya Indonesia punya banyak peluang untuk semakin meningkatkan potensi. Persoalannya, sejauh mana kemampuan kita menangkap peluang itu?

 

Mempelajari kelemahan China

Indonesia akan mampu memosisikan pondasi ekonominya dengan lebih baik jika optimisme itu ditumbuhkembangkan melalui eksplorasi produk-produk berkualitas, serta diiringi manajemen yang matang dan profesional. Merasa “kalah” sebelum berperang merupakan langkah yang tak patut, karena China sendiri juga bukan negara yang tanpa masalah. Maka itu, sebenarnya kelemahan China dan strategi yang dibuat untuk mengatasi kelemahannya itu dapat menjadi domain pembelajaran bagi bangsa Indonesia agar senantiasa optimistik membaca dan memanfaatkan peluang.

Dilihat dari konstruksi perekonomiannya, China yang memiliki cadangan devisa hampir 2 triliun dolar AS, memang telah menjadi “Macan Asia” yang sangat diperhitungkan oleh Amerika Serikat dan Eropa. Namun di balik itu, perekonomian dalam negeri China juga masih mengalami segudang permasalahan; seperti ketimpangan sosial, ketimpangan antar-daerah, dan masih besarnya jumlah penduduk miskin.

Dari yang tampak di pasaran, kita bisa lihat bahwa keunggulan produk China hanya lebih ditentukan oleh harga murah. Sementara soal kualitas, kandungan teknologi, dan kekhususan lainnya masih belum nampak. Bahkan secara kualitas, beberapa produknya masih di bawah Indonesia. Karena trade mark “harga murah” itu masih dapat dipertahankan, maka sebatas itu jugalah produk China akan tetap diminati. Namun keunggulan itu kian terkendala oleh semakin tingginya upah tenaga kerja yang harus dibayar oleh pemerintah China. Artinya, potensi kenaikan harga produk-produk mereka akan semakin besar akibat kendala ketenagakerjaan ini.

Di satu sisi, populasi penduduknya yang tak kurang dari 1,5 milyar jiwa menuntut ketersediaan lahan pekerjaan. Dapat dipahami mengapa China enggan memindahkan industrinya ke negara lain, karena sektor ini merupakan tulang punggung bagi ekonomi China dan penyedia kesempatan kerja.

Di sisi lain, mereka memiliki potensi penguatan mata uang berlebihan dan kecenderungan terjadinya gelembung dalam perekonomian dalam negerinya. China dapat meminimalisasi masalah tersebut dengan memperbanyak aset yang ditawarkan langsung ataupun lewat pasar modal, sekaligus mengekspor modalnya ke luar negeri. Ekspansi aset ke luar negeri merupakan strategi China memperkokoh perekonomian dalam negeri. Setumpuk masalah ketenagakerjaan, kualitas produk dan standar teknologi yang tak secanggih Jepang dan Korea itu dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk tetap optimis menghadapi serbuan produk China.

 

(Baca artikel lengkapnya di majalah Esquire Indonesia edisi Mei 2010)

 

 

 
 
Pertautan Tiga Prinsip di Gianyar
Di tengah-tengah demam Piala Dunia, sehari sebelum jutaan pencinta sepak bola menunggu pertandingan Argentina melawan Jerman, lebih dari 100 penari kecak asyik melakukan pra pertandingan di Lapangan Astina, Gianyar, Ubud. Penari kecak ...
Dari Wajan ke Bidadari
Jika Anda salah satu pengunjung tetap Bazaar Art Jakarta (BAJ), pasti tahu maksud dari judul di atas. Tahun lalu, pengunjung Pacific Place disuguhi sebuah instalasi seni “wajah” karya Teguh Osentrik yang terhampar dari bagia...
Loyalitas 150 Tahun
Jeanne Calment, wanita asal Perancis yang lahir pada 1875 bisa jadi salah satu manusia berusia terpanjang dalam sejarah. Ia berusia 122 tahun 164 hari ketika wafat pada 1997 silam. Konon, ketika berusia 12-13 tahun, ia sempat bertemu de...
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
See more gallery »
BARU

BARU (ks):
1. Sesuatu yang lebih baik, lebih berkualitas.
2. Meninggalkan yang lama dan menjadikannya pelajaran hidup untuk melangkah lebih maju lagi.
3. Mampu membuat kita tersenyum bahagia.
4. Berpikir kreatif. 5. Boros, buang-buang waktu dan energi, keinginan duniawi belaka.

 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group