| |
| |
|
|
Post on 21/10/2009
Clive Owen
Dua belas menit dari pos, tiga kata muncul dalam pikiran saya: Ini tidak baik. Kami bertiga, bertaruh untuk kuda-kuda di Longchamp, lintasan pacu indah bergaya Paris, pada suatu Minggu sore. Ada Mike si bandar kuda, berdasi mahal dan berjaket warna cokelat lumpur, mengangkat bahu, meneguk, memuntir-muntir sepatunya, dan mendesis. “Bukan isyarat bagus buat kita,” ujar Mike. Saya kira ini justru bagus. Ayo pertaruhkan semuanya!
Clive Owen tampak menakjubkan. Dia terlihat layaknya seorang pengintai, menyipitkan mata sambil membuka kacamatanya,membuka bibirnya, sedikit bergumam, seakan ingin mengucapkan satu kata. Saat Owen menatap sebuah subjek, seluruh tubuhnya fokus terhadap momen itu. Ia memandang bagai seorang pemadat. Ketika berbicara, terdapat jeda di tiap frase yang akan diucapkan, seperti baru bangun dari tubuhnya sendiri. Pria ini mempelajari keadaan sekitarnya sebelum berbicara. Tapi sekarang, ia terlihat terlalu gembira
untuk bersikap diam.
Masalahnya, ia bertaruh dengan uang saya. Setelah menyaksikan empat lomba pertama, lomba kelima menampilkan sejumlah pemenang dari berbagai benua. Kini Owen mengincar sang favorit. Parahnya lagi, ia akan menghamburkan segepok uang saya. Sebelas ribu euro untuk hari itu saya berikan kepadanya setelah lomba pertama usai. Ia memperlakukan uang itu seperti miliknya sendiri. Saya menganggapnya sebagai tantangan. Ia datang jauh-jauh dari London bersama si bandar kuda. Mike yang berperawakan besar, berkumis tebal, dan mengenal setiap joki dan pelatih di lingkungan tersebut. Clive Owen adalah ‘orang dalam’. Seberapa parah situasinya? Skenario terburuk: pulang dengan sisa uang dan membeli parfum di duty-free untuk pasangan saya. Ternyata yang terjadi justru skenario terbaik. Ia memang seorang penyelamat, dan saya menikmati kemenangannya. Owen berhasil menggandakan uang dan membagi keuntungan, padahal saya ibaratnya hanya gaung dari kesuksesan taruhan ini.
Inilah dia, Clive Owen, 44 tahun. Dokter cerdik dalam Closer, penyelamat umat manusia pada Children of Men, dan kini, seorang agen interpol pemberani dalam The International. Ia akan memasang hingga recehan euro terakhir pada satu lomba, untuk kuda yang ‘terangsang’, yaitu Henry sang Navigator. Satu taruhan. Itu membuat saya sangat risau. Kemudian Owen berbicara dengan suaranya yang terdengar damai, sambil menganggukkan kepalanya, bertanya kepada si bandar kuda untuk mendapat bocoran, “Gimana dengan yang itu, Mike?”
Sang joki berlalu sambil mengulurkan tangannya ke Owen. “Bagaimana keadaannya?” ucap Owen. Si penunggang kuda menengok ke atas -sebab Owen bertulang panjang- dan menyeringai. Tampaknya dia agak sakit. “Kamu tahu,” ujarnya. “Pilihannya cuma patuh atau mati.” Saya pikir Owen akan membatalkan taruhan itu. Beberapa saat kemudian Mike berkata, “Coba saya lihat apa yang bisa dilakukan.”
|
|
| |
|
|
| |
 |
Pertautan Tiga Prinsip di Gianyar
Di tengah-tengah demam Piala Dunia, sehari sebelum jutaan pencinta sepak bola menunggu pertandingan Argentina melawan Jerman, lebih dari 100 penari kecak asyik melakukan pra pertandingan di Lapangan Astina, Gianyar, Ubud. Penari
kecak ...
Dari Wajan ke Bidadari
Jika Anda salah satu pengunjung tetap Bazaar Art Jakarta (BAJ), pasti tahu maksud dari judul di atas. Tahun lalu, pengunjung Pacific Place disuguhi sebuah instalasi seni “wajah” karya Teguh Osentrik yang terhampar dari bagia...
Loyalitas 150 Tahun
Jeanne Calment, wanita asal Perancis yang lahir pada 1875 bisa jadi salah satu manusia berusia terpanjang dalam sejarah. Ia berusia 122 tahun 164 hari ketika wafat pada 1997 silam. Konon, ketika berusia 12-13 tahun, ia sempat bertemu de...
|
|
|
|
|