HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 03/05/2010
Jang Dilupakan dan Jang Terlupakan

Oleh: Ben Anderson

Catatan redaksi: Naskah artikel ini menggunakan ejaan Suwandi)

Pada tahun 1564, lebih dari 1,500 tahun setelah Jesus Christus disalib, Paus Paulus IV mengusahakan penerbitan dari Index Librorum Prohibitorum, daftar dari sekitar 4,200 buku jang pantang dibatja oleh orang2 Katolik awam. Hampir semuanja dianggep bisa menjesatkan dari sudut teologi, kesusilaan, atawa politik.

Baru pada achir abad ke-19, sekitar seribu buku didaftar itu, termasuk The Princenja Machiavelli, diperbolehkan, dan pada tahun 1966, Indexnja sendiri, dengan usianja 400 tahun, dirasakan usang dan tak dipakai lagi. Kenapa begitu? Faktor utama dibelakang timbulnja Index adalah konsekwensi perkawinan antara kapitalisme awal dengan teknologi terbitan, sehingga ratusan penerbit membandjiri pasaran diseluruh Eropa dengan 50 djuta buku selama periode 1450-1500. Semulanja dalam bahasa Latin, tapi tak lama lagi dalam bahasa2 vernakular. Faktor kedua, adalah tantangan hebat dari bermatjam2 kubu Protestan jang dengan djitu memakai ‘anak2’ perkawinan tadi untuk menggerogoti benteng Katolik. Sendja Index menongol ketika sebagian besar manusia di Eropa Barat sudah melek huruf pada bagian kedua abad ke-19. ( Lutjunja, penerbitan Index ini djusteru menundjukkan eksitensi/djudul buku2 jang diharapkan akan dilupakan.

Dalam hal ini, Geredja Katolik bukan unik, tjuma mungkin paling sistematis.Kaisar2 Tiongkok chususnja selama dinasti Ming dan Tjing, dibantu oleh polisi susila/politik dari birokrasi berhaluan Konghutju, berusaha memberantas peredaran buku2 jang ‘berbahaja.’ Ironisnja sebagian dari buku2 terlarang itu sekarang dianggap hasil kesusasteraan Tionghoa jang paling luhur dan klasik. Begitu pula di dunia Arab-Persia setelah masa Nabi Muhammad. Sjair2 heibat hasil masa pra-Islam kadang2 ditjap sebagai puisi djahilijah jang menjesatkan dan, tentunja, berbahaja. Toh, kebudajaan ‘oral’ orang2 Arab sangat berakar, sehingga sjair2 itu hidup terus dalam memorinja masjarakat -- sampai sekarang. Bisa diduga bahwa penguasa Ottoman sempat mengerti konsekwensi timbulnja ‘kapitalisme terbit’ di Eropa, sehingga ‘penerbitan’ apapun djuga dilarang sampai bagian kedua abad ke-19.

Toh, agama2 Keristen (dalam arti luas) menghadapi masalah jang berbeda dengan pengalaman masjarakat Tionghoa dan Arab, karena bahasa jang dipakai mereka dari djaman ke djaman tetap kontinu. Tetapi bahasa sakralnja Keristen, jaitu Latin, Junani Antik, dan Ibrani, merupakan bahasa ‘mati,’ atawa bahasa buku jang dimengerti hanja oleh segelintir anggota masjarakat. Akibatnja revolusi kapitalisme-terbit itu, karya2 heibat dari Zaman Pra-Keristen tjepat mulai diterbitkan kedalam bahasa2 vernakular, sehingga ‘hidup’ kembali. Maka dari itu, masjarakat Eropa mulai sadar bahwa ‘bahasa2 agama’ mereka itu, chususnja Latin dan Junani, mewariskan filsafat dan sastra jang luar biasa, dan djuga mentjerminkan dunia politheis (banjak dewa-dewi) jang adatistiadatnja kadang2 bertentangan langsung dengan ‘fatwa’ Geredja (misalkan, di Junani Antikik tjinta homoseksual antara tjowok elite dianggap tjinta jang paling luhur).

Tentunja pada masa timbulnja nasionalisme diseluruh dunia, tradisi ‘larangan2’ berlangsung terus, walaupun tidak didasarkan atas tuntutan agama. Tjuma, bentuknja lain jang sering lebih halus. Masjarakat mulai diadjak untuk melupakan hal2 jang tidak tjotjok dengan visi tunggalnja nasionalisme setempat. Filsuf perantjis Ernest Renan, denga senjum nakal, sudah menjalir fenomenon ini pada achir abad ke-19 dengan mengatakan bahwa untuk mendjadi ‘bangsa’ manusia ‘harus lupa banjak hal.’ Misalnja: kata ‘france’ berasal dari satu suku Djerman, bernama Frank, jang menjerbu dan menguasai Perantjis-sekarang pada abad ke-8. Dalam textbook2 Perantjis si Djerman, Maharadja Charlemagne, digambarkan sebagai pahlawan Perantjis tulen. Pokoknja, ‘masa dulu’ dari ‘kita punja’ bangsa, jang pasti pandjang dan heibat, harus ditjotjokan dengan visi moderen nasionalisme sendiri.

 

Di Indonesia kita bisa meliat proses jang mirip. Keradjaan Sriwidjaja sudah lama dilupakan atawa tak lagi diketahui, tetapi setelah digali kembali oleh sardjana2 kolonial pada awal abad ke-20, tahu2 ‘diingat kembali’ sebagai simbol kedjajaan bangsa, walaupun agama Budhanja se-akan2 ditjoret dari ingatan baru tadi. Dalam memoirnja jang dikarang di tempat pembuangan, Pangeran Diponegoro dengan terus-terang mengakatan bahwa tudjuannja adalah ‘menaklukan Djawa’. Toh sekarang ‘diingat’ sebagai Pahlawan Nasional Nommer Satu. Borobudur ‘diingat’ djuga sebagai kebanggaan bangsa, chususnja untuk parawisata matjam2, tapi pengadjaranja agama Budha tak perlu diketahui, terlupakan.

Mungkin gedung2 rada gampang dilupakan pesannja, karena se-olah2 membisu. Lain dari sastra. Seharusnja Serat Tjenthini jang diingat sebagai puntjak sastra ‘Indonesia’ pra-moderen, tetapi selama satu abad karya ini tak diterbitkan dengan lengkap, karena agama Islam-mistiknja dan banjak adegan sexnja, apalagi dipesantren, dianggep menjesatkan dan bermoral porno. Serat Gatholotjo, djuga luar biasa, tak boleh diterbitkan kembali, sekali lagi karena adegan2 sex plus mistik, ditambah penulisnja menggambarkan permusuhan dasar antara Islam-Djawa jang ‘mendalam dan benar luhur’ dan Islam-Arab jang ‘dangkal dan hipokrit.’ Semuanja tidak tjotjok dengan bentuk nasionalisme jang resmi, selain ortodoksi agama jang dalam banjak hal mirip ortodoksi Paulus IV. Memang, Indonesia merupakan satu bangsa dan negara jang punja sangat banjak ‘masa lalu’ jang berbeda-beda dan dari kemadjemukan ini tentunja selalu akan timbul larangan2 dan keterlupaan.

Toh sedjarah menundjukkan bahwa segala matjam larangan, djelas atawa semu, bukannja abadi. Tuanku Raonja Mangaradja Onggang Parlindungan, dilarang pada tahun tahun 1963, diterbitkan kembali 40 tahun kemudian: bukan di Pematang Siantar tetapi di Jogja, bukan oleh Batak2 setia tetapi oleh NU punja intelektual muda. Pada satu hari jang dilupakan atawa terlupakan toh akan diingat kembali. Pada tahun 2004, Indonesia dalem Api dan Bara, masterpiecenja Tjamboek Berdoeri (Kwee Thiam Tjing), jang hilang dari memori hampir 60 tahun, keluar dari ‘kuburan’nja dan kembali beredar bebas di pasaran buku. Tapi bagaimana kedua buku bagus ini bisa ditjotjokkan dengan nasionalisme pitjik dan resmi? Belum djelas, apa lagi kalau ingat bahwa textbook sedjarah Indonesia masih mendjadi telor busuknja djaman Suharto? Pada abad ke-18 esais dan perintis pembikinan kamus bahasa Inggris jang ‘merdeka,’ bilang: ‘Nasionalisme adalah akal2 achir dari para badjingan,” artinja kalau semua akal bulus sudah gagal, para badjingan akan lari ke nasionalisme untuk menutupi kebadjingannja.

Toh semua gedjala jang digambarkan diatas timbul dalam periode pandjang dari kekuasaan sang Buku - barang kongkrit jang hidupnja lama, biarpun disembunjkian dari waktu ke waktu. Tetapi sekarang kita sudah masuk djamannja Internet dengan Googlenja, U Tubenja, Facebooknja dan lain2. Di AS diramalkan bahwa 25 tahun lagi ‘surat kabar’ akan lenjap. Djagoan2 perpustakaan sibuk dengan digitalisasi total, dimana tak perlu lagi susah2 mengumpulkan barang-buku jang makan ruangan jang besar dan penuh debu: semua karangan oleh siapa pun djuga dalam sedjarah manusia akan selamat di cyberspace untuk selamanja. Logika pikiran matjam ini adalah tiada lagi jang mungkin dilupakan, paling sedikit oleh Google.

Larangan2 djuga makin lama makin mustahil bersukses. Tapi pada ketika jang sama para aktivis di Amerika pada prinsipnja menolak simpan barang apapun djuga jang berupa fotokopi, xerox, email, dan sebagainja dengan alasan bahwa ‘hidup’ barang2 ini sangat pendek. Fotokopi dan xerox akan pudar setelah 15 tahun, dan email2 djuga tak terbatja lagi karena teknologi internet berkembang dan berobah setjara dahsat. Apalagi surat atawa karangan bisa sadja di-delete dalam sekedjap mata, mungkin untuk selamanja. Bagaimanapun djeleknja, sebuah buku toh memerlukan waktu lama untuk ditulis dan diterbitkan, dan tak bisa dibatja dalam 5 menit. Sehingga ada kemungkinan mendjadi sesuatu ‘sastra’ jang benar2 hebat. Tapi dengan kebudajaan chas internet jang dipentingkan diatas semuanja adalah ketjepatan, kependekan, dan spontanitas. Blog2 bisa lutju, pedas, goblok, porno, sentimentil, marah2, maki2an tetapi sulit mendjadi karangan jang diingat 40 tahun kedepan. Apalagi karena enaknja timbul dari bahasa gaul2an, slang temporer, gramatika sms-an, jang berobah terus-menerus, dan bersifat seadanja saza.

Orang2 jang menonton politik di Indonesia sering ketawa meliat djurang antara puluhan undang-undang, dekrit2 para presiden dan menteri, plus fatwa2 sana-sini dan realitas sehari2 jang dialami masjarakat. Diumumkan dengan bantuan segala matjam pengeras suara, toh 3 bulan selandjutnja tak terasa, mirip kentut busuk jang sebentar lagi dilupakan. Mungkin ada baiknja. Indexnja Paulus IV bisa tahan 400 tahun karena orang2 jg bisa batja masih minoritas ketjil. Tetapi indexnja MPR – larangan terhadap buku2 berbau Marxis, dan UU Anti Pornoaksi punja DPR tak digubris oleh masjakarat Indonesia jang berobah terus-menerus diluar komandonja badan2 tersebut. Djaman dulu, para kritikus menggambarkan keradjaan besar Austro-Hungaria sebagai ‘sistem kediktatoran didjinakkan oleh slordigheid.’ Bisa djuga oleh timbulnja demokratisasi dalam masjarakat. Dalam hal ini, mungkin kita harus pertjaja pada masjarakat sendiri tentang apa jang perlu dilupakan, dan berterima kasih atas slordigheidnja Negara.

 

 
 
Pertautan Tiga Prinsip di Gianyar
Di tengah-tengah demam Piala Dunia, sehari sebelum jutaan pencinta sepak bola menunggu pertandingan Argentina melawan Jerman, lebih dari 100 penari kecak asyik melakukan pra pertandingan di Lapangan Astina, Gianyar, Ubud. Penari kecak ...
Dari Wajan ke Bidadari
Jika Anda salah satu pengunjung tetap Bazaar Art Jakarta (BAJ), pasti tahu maksud dari judul di atas. Tahun lalu, pengunjung Pacific Place disuguhi sebuah instalasi seni “wajah” karya Teguh Osentrik yang terhampar dari bagia...
Loyalitas 150 Tahun
Jeanne Calment, wanita asal Perancis yang lahir pada 1875 bisa jadi salah satu manusia berusia terpanjang dalam sejarah. Ia berusia 122 tahun 164 hari ketika wafat pada 1997 silam. Konon, ketika berusia 12-13 tahun, ia sempat bertemu de...
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
gallery
See more gallery »
BARU

BARU (ks):
1. Sesuatu yang lebih baik, lebih berkualitas.
2. Meninggalkan yang lama dan menjadikannya pelajaran hidup untuk melangkah lebih maju lagi.
3. Mampu membuat kita tersenyum bahagia.
4. Berpikir kreatif. 5. Boros, buang-buang waktu dan energi, keinginan duniawi belaka.

 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group