Berbincang dengan pemilik nama asli Nyak Ina Raseuki ini sungguh terasa nikmat dan mencerahkan. Sebagian orang mengenalnya hanya sebagai penyanyi karena vokalnya yang unik, tapi lebih dari itu Ubiet juga seorang akademisi yang konsisten mengembangkan musik tradisional dan kebudayaan luhur seni Nusantara. Tahun lalu, penggagas grup Kroncong Tenggara ini meraih gelar PhD-nya dalam etnomusikologi dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.
Mengapa kroncong?
Karena ini musik asli Indonesia, salah satu genre populer tertua dalam perkembangan seni musik negeri ini. Ia juga musik hibrid yang melalui proses ratusan tahun, dan merupakan perpaduan antara musik Indonesia dan Eropa yang pertama. Saya pikir kroncong adalah harta seni musik Indonesia yang bisa terus digali.
Seperti apa interpretasi kroncong di era modern ini?
Tentunya mengemas kroncong menjadi lebih menarik dengan citarasa dan aspirasi baru. Pengembangan dilakukan dengan mengadopsi beragam jenis musik lain, seperti jazz, melayu, bahkan pop. Namun sama sekali tidak merubah musik kroncong itu sendiri, justru memperkuat jiwa musik keroncong.
Apakah mungkin nanti kroncong bisa kembali menjadi mainstream?
(Baca wawancara lengkapnya di majalah Esquire edisi April 2010)