| |
| |
|
|
Post on 20/10/2009
Boediono
Nama pria ini melambung cepat bak meteor. Sejak resmi terpilih menjadi calon wakil presiden (cawapres) yang diusung partai Demokrat sebagai pendamping (calon) presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), popularitasnya mencuat ke permukaan. Namun penunjukan dirinya sebagai cawapres diselimuti beragam kontroversi. Beberapa pihak menilai Boediono tergolong “anak baru” di panggung politik praktis. Ia adalah tokoh diluar partai politik, dan lebih dikenal sebagai teknokrat ketimbang politisi.
Menanggapi hal ini Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum menjelaskan kepada Esquire, bahwa pengalaman Boediono yang panjang di pemerintahan (meskipun bukan sebagai politisi, melainkan seorang profesional) tetap membekalinya dengan peta bumi politik nasional dan bagaimana politik bekerja dalam decision making process.
Selain itu, pria yang akrab disapa pak Boed ini juga masih dikait-kaitkan dengan kasus pengucuran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) (setidaknya 400 triliun) yang dianggap menyengsarakan rakyat, ketika ia menjabat direktur Bank Indonesia (BI) urusan operasi dan pengendalian moneter tahun 1997- 1998. Bahkan, Boediono juga dinilai ceroboh ketika menggelontorkan dana rekap perbankan sekitar Rp 600 triliun ketika menjadi kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) di era presiden BJ Habibie tahun 1998.
Konon, aksi kontroversial Boediono ini membuat negara —melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)—, harus mencicil utang hingga tahun 2032 nanti. Selain itu, ketika menjadi menteri keuangan di era presiden Megawati Soekarnoputri, Boediono dituding menjadi aktor di balik kebijakan privatisasi dan divestasi melalui penjualan aset-aset strategis bangsa. Rekam jejak itu pula yang seolah menjadi bagian dari citra tentangnya yang dianggap antek International Monetary Fund (IMF), penganut paham ekonomi neoliberal.
Tetapi, terlepas dari aneka kontroversi yang gaungnya berputar-putar di sekitarnya, Boediono muncul dengan “bungkus” kesederhanaan yang alami. Sosok santunnya berpadu dengan rekam jejak kariernya yang dikenal “bersih”. Juru bicara presiden SBY, Andi Mallarangeng berseloroh bahwa figur seperti Boediono-lah yang dibutuhkan untuk mendampingi SBY. Optimisme dan harapan terhadap Boediono juga sempat digelontorkan oleh sastrawan Goenawan Mohamad, “SBY telah berani menunjukkan sikap kepemimpinan yang berani dengan menunjuknya sebagai cawapresnya. Kemampuan Boediono sebagai ekonom sudah teruji.”
|
|
| |
|
|
| |
 |
Pertautan Tiga Prinsip di Gianyar
Di tengah-tengah demam Piala Dunia, sehari sebelum jutaan pencinta sepak bola menunggu pertandingan Argentina melawan Jerman, lebih dari 100 penari kecak asyik melakukan pra pertandingan di Lapangan Astina, Gianyar, Ubud. Penari
kecak ...
Dari Wajan ke Bidadari
Jika Anda salah satu pengunjung tetap Bazaar Art Jakarta (BAJ), pasti tahu maksud dari judul di atas. Tahun lalu, pengunjung Pacific Place disuguhi sebuah instalasi seni “wajah” karya Teguh Osentrik yang terhampar dari bagia...
Loyalitas 150 Tahun
Jeanne Calment, wanita asal Perancis yang lahir pada 1875 bisa jadi salah satu manusia berusia terpanjang dalam sejarah. Ia berusia 122 tahun 164 hari ketika wafat pada 1997 silam. Konon, ketika berusia 12-13 tahun, ia sempat bertemu de...
|
|
|
|
|
|
|
|
| |
| |