HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 03/01/2012
Penguasa Dua Stadion

Jika para penggemar klub sepakbola asal Inggris, Manchester United (MU), adalah tipe orang-orang yang percaya takhayul, mungkin penyebab kekalahan telak 6-1 atas pesaing satu kota Manchester City bisa dihubungkan dengan kehadiran keluarga Glazer pada hari “nahas” itu. Ya, kekalahan yang terjadi pada Oktober lalu tersebut merupakan kekalahan terbesar yang diterima MU selama 80 tahun terakhir.

Mulai membeli saham kepemilikan klub sejak 2003, Malcolm Glazer, pengusaha asal Amerika memang sudah tidak jauh-jauh dari kontroversi. Utang yang kemudian melilit klub yang sempat menjadi klub terkaya di dunia itu menimbulkan kebencian di kalangan penggemar Setan Merah, julukan MU.

Gerakan anti-Glazer kemudian merebak. Penggemar boleh saja marah, tapi dari laporan keuangan pada Juni 2011 justru menunjukkan hasil berbeda. Data seperti pendapatan operasional yang mencapai 532 juta dolar AS dan utang (yang menjadi penyebab Malcolm menjadi musuh suporter) yang menyusut dari 605 juta dolar AS pada tahun sebelumnya menjadi 495 juta dolar AS, serta pendapatan iklan yang naik 27 persen membuat visi bisnis Malcolm di klub tersebut sebenarnya tidak seburuk yang dikira.

Malcolm Glazer pada awalnya sebenarnya tidak dikenal sebagai pengusaha yang gemar membeli klub olahraga. Ia lebih diketahui sebagai Presiden dan CEO dari First Allied Corporation, sebuah perusahaan holding dari berbagai jenis usaha, mulai dari industri pengelolaan makanan, kesehatan, eksplorasi energi, real estate, perbankan, internet, hingga penyiaran.

Namun pada 1995 dunia bisnis olahraga dikejutkan dengan langkah Malcolm yang membeli tim football Tampa Bay Buccaneers yang berlaga di liga utama (National Football League) di Amerika Serikat. Pembelian sebesar 192 juta dolar AS merupakan rekor penjualan tertinggi klub olahraga di Amerika saat itu.

Malcolm Irving Glazer lahir pada 25 Mei 1928 dari keluarga asal Lithuania yang hijrah ke Amerika. Malcolm besar di wilayah Rochester, New York. Ia adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Sang ayah Abraham, seorang Yahudi Ortodoks, adalah pengusaha toko penyedia suku cadang jam. Untuk urusan bisnis, Malcolm sendiri sudah mengenal dunia ini sejak belia. Pada 1943, Abraham mangkat karena penyakit kanker. Malcolm yang saat itu baru berusia 15 tahun pun dipercayakan meneruskan bisnis ayahnya. “Saat itu ia (Malcolm) hampir tidak mempunyai olahraga atau hobi tertentu, atau bahkan teman dekat, karena sepulang sekolah ia langsung bekerja di toko,” jelas salah satu saudara perempuannya.

Menginjak usia 21 tahun, Malcolm sudah mampu membuka toko perhiasan dan perbaikan jam sendiri di dekat kota kelahirannya. “Waktu itu sangat sulit mengelolanya, tapi sesungguhnya saya sangat menikmati hal itu. Buktinya saya mampu mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari sebelumnya,” kenang Malcolm. Kegandrungan Malcolm terhadap bisnis kemudian semakin besar. Sebagai remaja yang relatif sudah memiliki uang lebih, Malcolm lebih memilih “memutarkan” uangnya dengan melakukan bisnis jual-beli beberapa bangunan kecil di wilayah Rochester daripada sekadar menghabiskannya untuk menikmati berbagai kesenangan sesaat. Seiring pertumbuhan bisnis propertinya, Malcolm mulai melirik berbagai jenis properti lain seperti karavan, bahkan mulai mendirikan mal. Akhirnya pada 1984 ia mendirikan First Allied Corporation yang saat ini telah menjelma menjadi salah satu pengembang mal terbesar di negara Paman Sam.

Menjelmanya First Allied Corporation menjadi salah satu perusahaan raksasa tidak terlepas dari keputusan Malcolm untuk tidak hanya bermain di sektor properti. Berbagai langkah bisnis Malcolm selanjutnya lebih banyak diwarnai dengan berita upaya pengambilalihan perusahaan yang bergerak di berbagai industri, walau pada awalnya tidak semulus yang dikira. Pada 1984 Malcolm sempat mengajukan tawaran sebesar 7,6 miliar dolar AS untuk membeli sebuah perusahaan angkutan kereta api yang hampir bangkrut. Namun usaha Malcolm gagal. Tak kali itu saja Malcolm mengalami kegagalan. Ia tercatat pernah gagal mengambil perusahaan desain dapur Formica pada 1988 dan pada tahun berikutnya ia sempat membeli saham di perusahaan motor legenda Amerika, Harley-Davidson kendati akhirnya ia jual kembali.

Tentu kegagalan hanyalah sebagian kecil dari cerita sukses intuisi bisnisnya. Malcom sukses mendapatkan perusahaan eksplorasi lepas pantai Zapata yang hampir gulung tikar. Zapata adalah salah satu perusahaan yang didirikan oleh mantan presiden George HW Bush. Ia juga membeli restoran waralaba Houlihan’s yang tersebar di sekitar 20 kota di Amerika. Saat memasuki era ‘90-an, barulah nama Malcolm tercatat dalam industri bisnis olahraga saat membeli Tampa Bay Buccaneers, menyusul mangkatnya Hugh Culverhouse, pemilik klub sebelumnya. Bucs (panggilan beken klub) sendiri sudah berdiri sejak 1976 dengan prestasi yang adem ayem saja. Tim ini bahkan sempat mempunyai catatan kekalahan hingga 70 persen dari seluruh pertandingan yang pernah diikuti.

Kendati pemula dalam industri olahraga, Malcolm tak gentar. Ia bahkan segera melakukan berbagai langkah yang juga tak lepas dari kontroversi. Pembangunan markas baru bagi klub Tampa Stadium misalnya menuai prokontra karena melibatkan keuangan pemerintah setempat. Para pemain hebat seperti Keyshawn Johnson, hingga pelatih baru pun mulai didatangkan.

Hasilnya, pada beberapa tahun pertama era kepemilikan Malcolm, Bucs relatif mengalami kemajuan. Pada 1997 grup ini berhasil masuk tahap playoff, pada 1999 menang di National Football Conference (NFC), dan pada 2002 bahkan meraih Super Bowl (final NFL) pertamanya setelah mengalahkan Oakland Raiders. Namun setelah Malcolm mulai asyik dengan “mainan” barunya, Manchester United, kejayaan Bucs perlahan menghilang. Media dan penggemar setempat mencurigai bahwa hal ini tak lepas dari langkah Malcolm yang mengurangi “subsidi” untuk Bucs, dan lebih memilih mengalokasikan pengurangan itu untuk menutupi utang yang dialami Manchester United.

Nama Malcolm di dunia olahraga semakin sering disebut setelah pada 2003 dan 2005 secara bertahap membeli saham MU dengan nilai total sekitar 1,4 miliar dolar AS. Masuknya Glazer segera mendapat reaksi negatif dari para penggemar klub, sebabnya tentu utang sebesar 850 juta dolar AS yang membebani klub. Harga tiket pun meningkat. Selama kurun waktu 2005-2010, kenaikan mencapai kisaran 42 persen, padahal di saat yang sama penerimaan klub dari tayangan TV dan sponsor justru relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa musim sebelumnya. Namun di tengah berkumandangnya lagu anti-Glazer ciptaan para suporter yang sering terdengar saat MU beraksi di kandang, Glazer tampaknya terus menutup kupingnya. Ia memang pernah berkata, “Saya senang mendengar tepuk tangan”. Mungkin nyanyian lagu anti-Glazer itu pun ia anggap sebagai tepuk tangan.

 
 
Rambut Bagi Pria
Tampil keren dengan aksesori alami Anda. Enaknya pria, kita tak perlu menambahkan macammacam untuk melengkapi penampilan. Tuhan telah memberikan aksesori alami untuk dimanfaatkan: rambut wajah. Menurut pengamat mode Muara Bagdja, citr...
Jangan Lupa Sarapan
Rutinitas pria eksekutif menuntut manajemen waktu yang efisien. Namun terkadang kesibukan mempersiapkan materi pertemuan bisnis menyita waktu di pagi hari. Alhasil tidak sedikit pria yang terpaksa melewatkan makan pagi, karena terbata...
Dilahirkan Dipuja Dicemooh Dikenang
Pagi itu, penduduk Edo terenyak. Sepanjang hidup mereka, boleh jadi tidak ada yang pernah melihat benda semacam itu sebelumnya. Kapal-kapal besar, mengeluarkan asap dari puncaknya, dan terbuat dari besi hitam legam. Kapal-kapal itu me...

Esquire May 2013 - Internal Affair - Esquire Style
Esquire May 2013 - Rory Asyari for Man & Toys
See More Video...
Seksi

 
SEKSI (ks): 1. Pesona yang berkaitan dengan daya tarik seksual (bisa apa saja: tubuh, suara, mata) pada manusia dan makhluk lain yang tolok ukurnya bersifat personal. Jadi sah saja kok kalau Anda ingin bilang, monyet itu seksi banget! 2. Tuntutan peran, profesionalisme, rekayasa imaji atas nama kreativitas seni. 3. Beda tipis dengan porno/vulgar, bisa dikaitkan dengan intelektualitas atau hal lain tetapi ujung- ujungnya tak bisa dipisahkan dari akar kata itu sendiri, seks. Sulit dibayangkan Anda berkata, Nenek itu seksi sekali pakai bikini!



UNITY CASA by BRAVACASA

Bazaar Art Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013

AMICA Spring/Summer Festival 2013

9 Summers 10 Autumns

COSMO MEN 2013

Esquire Best Dressed Real Men 2013

Promo Ipad
 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 - 2013 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group