Ia Seorang koboi dalam Cowboys & Aliens yang sulit dipahami. Bahkan setelah menemuinya di London, tetap saja ia Terkesan tak “terbaca”.
Jadi, di mana lokasinya?
Di sebuah ruangan. Tetapi tidak bisa dikatakan ruangan karena tidak memiliki langit-langit.
Lalu apa?
Di sebuah lapangan dengan banyak meja. Ini London. Lebih spesifiknya, di Camden yang terletak di sebelah utara Regent’s Park. Kota yang bagus, urban, tidak terlalu mewah, tidak banyak perputaran uang di sini. Ini siang hari, matahari terasa sangat menusuk kulit.
Siapa yang kita lihat?
Di ujung terdapat sebuah jalan kecil yang mengarah ke dapur. Ia mengenakan kaus dipadu dengan kardigan yang tidak dikancing. Ia adalah Daniel Craig, 43 tahun, matanya memancarkan cahaya. Ia memutarmutar sesuatu di jemarinya. Sebuah jam tangan atau satu set kunci rumah.
Tampak gugup atau bosan?
Mungkin ia lebih senang tetap sibuk selama berbicara. Bisa jadi sebuah bentuk ketidaksabaran atau keingintahuan tentang semua alasan kenapa ia duduk di sini. Tahun ini saja, ia membintangi tiga film. Satu dari film tersebut sudah terkenal,
begitu pula film-film lainnya. Ia juga akan membintangi film Bond lagi. Pengambilan gambarnya mulai November ini. Kemudian ada The Girl with the Dragon Tattoo yang bawah lagi. Kesan yang didapat: Daniel Craig selalu mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia katakan.
Ada sesuatu dengan matanya?
Ya mungkin, Craig memainkan mata birunya. Mata yang merupakan sumber penghasilannya. Ia membuat beberapa film yang bagus dalam beberapa dekade terakhir ini, seperti pada film Munich, berperan sebagai pembunuh. Kemudian dalam film Deviance , ia memerankan seorang yang berjuang demi kebebasan. Craig dikenal sebagai pengedar obat-obat terlarang dalam Layer Cake , film yang disutradari Matthew Vaughn (2004). Lalu Craig menemukan peran yang pasti dalam dua film Bond terakhir. Tentu saja ia akan menggunakan matanya di film berikutnya. Matanya lah yang menentukan peran Craig. Mata tersebut menunjukkan sedikit ketidakpastian, seperti yang ia lakukan dalam film Love is The Devil pada 1998 atau Flashbacks of A Fool , sepuluh tahun kemudian. Ini yang sedang ia lakukan di London: menghabiskan bagian dari sebuah cerita. Cerita tentang kampung halamannya: “Kota ini juga terkenal karena Duke of Westminster-orang terkaya di Negara ini. Westminster itu miliknya, termasuk kedutaan Amerika, termasuk juga Chester….”
Ingin tahu interview selengkapnya? Hanya di Esquire edisi September 2011. Atau Download format digitalnya di eReading Samsung Tab, SCOOP, Wayangforce.com sekarang juga!