Dalam sebuah jamuan makan malam di rumahnya, “Randy” (34), menyajikan makanan yang ia buat sendiri. “Agar kebersihannya terjamin,” katanya kepada kami. Sembari mencicipi hidangan, Randy menawarkan. “Rasanya sudah pas, belum? Kalau masih kurang asin, coba tambahkan garam. Ini garam organik, lho. Saya membelinya di supermarket khusus,” ucapnya bangga. Garam yang organik? Kami bertanya-tanya dalam hati. “Harganya memang lebih mahal,” sambungnya, “Namun lebih baik membayar lebih mahal daripada harus keluar uang lebih banyak di kemudian hari akibat penyakit.”
Randy yang bekerja di sebuah badan internasional ini mengaku, selalu membeli makanan organik untuk menjaga kesehatan. Ia mulai sangat memerhatikan semua asupan dan kesehatannya sejak bekerja di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat. Pria yang rutin mengasah kebugaran di gym ini pun rela mengeluarkan anggaran sampai dua kali lipat dari biasanya untuk membeli makanan organik. Ia telah melakoni gaya hidup ini 7 tahun. “Saya tidak mau tubuh saya menjadi ‘tempat pembuangan limbah kimiawi’,” kata Randy. Pangan nonorganik, menurutnya, tidak terjamin bebas dari kandungan pupuk atau pestisida kimiawi.
Kita tinggalkan Randy sebentar. Keesokan harinya, kami meluncur menuju sebuah jaringan supermarket di pusat Jakarta. Di sana, kami mengecek “lorong organik”. Di lorong itu terdapat beras sampai selai yang diklaim terbuat dari bahan-bahan organik. Ketika kami melihat ke lorong sebelah, lorong makanan bayi, ternyata juga terdapat cukup banyak produk organik. Mungkinkah tumbuh kembang bayi yang membutuhkan banyak gizi membuat produk makanan organik untuk bayi juga bertambah? Entahlah. Yang pasti, ketika kami mencoba meneliti ingredients salah satu produk yang diklaim organik, kejutan! Ternyata tidak “100 % natural”. Untuk garam saja masih ada label “80-90 % garam biasa”. Lalu apa sisa 10-20 %-nya? Untuk produk bayi, masih terdapat kandungan perasa dan konsentrat.
Kami tinggalkan sejenak kebingungan mengenai definisi organik. Kami kemudian pergi ke bagian bahan-bahan segar, yaitu sayur dan buah organik. Letaknya berdampingan dengan rak hasil tani nonorganik. Kami membanding-bandingkan harganya. Rata-rata harga buah dan sayur organik nyaris 50 persen lebih mahal dari yang nonorganik. Di sana, kami menemui “Satrio” (45). Ia tampak sedang mengecek rak-rak khusus bahan pangan organik kering. Ia sedang memilih beras organik di rak khusus bahan makanan kering.
“Istri saya berpesan, harus belanja [bahan pangan] organik saja,” jelas Satrio. Ia mengaku telah lama mengonsumsi pangan organik. Ia menjelaskan, keluarga istrinya mempunyai riwayat kanker pankreas, karena itu keluarga Satrio menerapkan gaya hidup istrinya untuk menghindari potensi terkena kanker pankreas di kemudian hari. Residu pestisida atau pupuk kimiawi pada bahan pangan, menurutnya, tidak baik bagi kesehatan jika dikonsumsi karena dalam jangka panjang dapat menumpuk dalam tubuh dan memicu banyak penyakit. Karena itulah, ia dan keluarganya beralih ke menu organik.
Siang itu, sesi belanja Satrio cukup panjang. Ini dikarenakan, ia selalu mengecek barang yang akan dia beli. Pertama, ia akan mengecek apakah itu organik. Jika ya, ia akan mencari-cari stiker atau label yang menguatkan, bahwa produk organik itu memang mendapatkan sertifikat dari badan sertifikasi organik. Mengenai poin yang terakhir disebutkan, itulah alasan Satrio dan juga Randy berlama-lama mengamati kemasan pangan organik saat ia berbelanja. Karena ia melakukan pengecekan rangkap: apakah itu organik dan bersertifikat organik. Rasa aman. Itulah yang dicari konsumen. Adalah wajar jika kedua pria itu—dalam hal ini konsumen—menyangsikan “keorganikan” sebuah produk. “Bisa saja hasil tani bukan organik kemudian dilabeli organik—agar membuat harganya lebih mahal,” jelas Randy tentang bahan pangan yang disebutnya ‘organik tapi palsu’. (Untuk itu, kami menghubungi Hero, salah satu supermarket yang menjual bahan-bahan organik, untuk mengecek regulasinya dalam menjual bahan-bahan organik.
“Untuk kategori [pangan] organik yang dijual di Hero harus mempunyai sertifikasi organik,” jelas Widi Astuti, Merchandiser Hero. Ia menambahkan, jika ada tambahan bahan nonorganik, maka level bahan tambahannya harus tercantum pada kemasan.) Kami kemudian memeriksa satu kemasan terung ungu organik. Stiker-stiker yang menempel pada kemasan itu membawa kami pada Kiki Rezki Effendi, pengelola Tangkolo Farm. Ia adalah petani organik yang selama lebih dari 3 tahun terakhir ini memasarkan hasil-hasil taninya ke banyak supermarket, antara lain Hero, Giants, dan Ramayana. Lahan pertaniannya seluas 14 hektar di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menerapkan teknik pertanian terpadu. Ia menyatakan berani menjamin pertanian organiknya menggunakan insektisida dan pupuk alami.
“Agar konsumen yakin, saya menempelkan stiker yang menyatakan bahwa pertanian saya mendapatkan sertifikasi organik dari badan yang ditunjuk Departemen Pertanian,” jelas Kiki. Kepercayaan. Itulah hal yang langka di zaman sekarang. Kiki beralasan, langkah itu ditempuhnya sekaligus demi melindungi bisnisnya dari persaingan yang tidak sehat. “Saya menginginkan peraturan yang lebih jelas lagi mengenai produk organik. Kalau bisa pemerintah juga mengambil random check dari produk organik yang dijual di beberapa supermarket untuk mengecek kebenaran apakah organik atau tidak,” tambah Kiki mengenai persaingan usaha di bidang pangan organik. “Saya berharap, pertanian yang tidak memiliki sertifikasi organik dari badan-badan yang ditunjuk Departemen Pertanian tidak boleh menjual hasil taninya dengan label organik.” Sertifikat untuk produsen pangan organik itu ibarat surat izin mengemudi (SIM ) untuk para pengendara kendaraan bermotor: jika tidak mengantonginya, maka ia layak diperkarakan. (Teks: Ayu Putri Dewanti, Sem Purba, Foto: Getty Image, Dok. Esquire)