Di pagi yang cerah itu, pria yang biasa disapa Rio ini datang ke studio Esquire dengan membawa satu tas besar yang ia sangkutkan di bahu kirinya, sementara tangan kanannya memegang segelas kopi hangat. Ia terlihat seperti mahasiwa yang cuek, namun hidup mewah.
“Hai Rio, apa kabar?” sapa kami.
“Oh , Anda dari Esquire ya? Kabar baik,” balasnya sambil memindahkan kopinya ke tangan kiri dan menjabat tangan kami dengan mantap.
“Sendirian?” tanya kami.
“Yep ,” sahutnya singkat.
Kami menyodorkan secarik kertas biodata yang biasa kami berikan kepada setiap orang yang kami wawancarai. “Apakah di sini boleh merokok?” tanyanya enteng sambil menaruh tasnya ke lantai di dekat sofa merah milik studio kami.
“Di studio tidak boleh. Bisa di tangga darurat. Yuk , di sana saja sambil mengisi biodata,” jawab kami sambil berjalan ke arah tangga.
“Sejujurnya saya tidak menyangka bisa jadi cover Esquire, lho ,” katanya membuka pembicaraan dan sambil mencari posisi duduk yang enak. Ia memutuskan duduk di anak tangga keenam.
“Ah , siapa bilang akan jadi cover ?” canda kami.
“Oh , belum pasti, ya ?” sahutnya spontan, sedikit terkejut.
“Anggaplah kemungkinannya 60:40. Karena mengenai cover , ada banyak sekali pertimbangan.”
“Oh , begitu,” wajahnya terlihat sedikit lesu, sementara tangan kirinya memegang rokok dan tangan kanannya sibuk mengisi formulir biodata dari kami.
“Kami bercanda. Anggaplah kemungkinannya 80:20,” hibur kami dan air mukanya terlihat lebih ceria.
Selagi Rio mengisi kolom terakhir, ponselnya berdering.
Penasaran dengan profil lengkap Rio dan apa saja yang diperbincangkan dengan Esquire? Hanya di Esquire Agustus 2011. Download versi digitalnya di SCOOP, eReading, Wayangforce.com.