Keinginannya hanya satu: hidup layak dari menggambar.
Chris Lie adalah komikus Indonesia yang namanya berkibar di jagat komik. Dalam portfolio pria 38 tahun asal Surakarta ini beragam komik yang sirkulasinya sangat luas. Sebutlah GI Joe Sigma6, Fraggle Rock vol.2 #1, Twilight Zone GN, Dungeons & Dragons Eberron, dan Ninja Tales. Klien-kliennya pun, dapat ditebak, lebih banyak asing ketimbang lokal, antara lain Tokyopop, Boom! Studios, Devil’s Due Publishing (DDP), Archie Comics, Sony Online Entertainment, Fantasy Flight Games, Hasbro, Lego, dan Mattel.
Apa yang digenggam Chris adalah hasil usaha yang panjang. Cukup panjang. “Setelah lulus dari jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada 1997, saya bekerja di sebuah biro arsitek. Pagi saya kerja di kantor, malamnya saya menggambar,” kata Chris. Bersama lima rekan, ia mendirikan Studio Bajing Loncat yang memproduksi komik. Mereka swadaya menggambar, menulis cerita, mencetak, dan mendistribusikannya. Karena alasan finansial (“Dapat menggaji karyawan, tapi tak dapat menggaji diri sendiri.”), Chris hijrah ke Jakarta dan bekerja di biro iklan.
Pada 2003, ia mendapatkan beasiswa Fullbright di jurusan sequential art di Savannah College of Art and Design, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Sebelum 2 bulan libur Thanksgiving pada 2004, ia mencari tempat magang. Ia ingat seorang temannya di Chicago, Illinois, pernah berkata, ia bekerja di gedung tempat penerbit DDP juga menyewa satu lantai. DDP menerbitkan antara lain komik Family Guy, GI Joe, Volton, dan Zombie. “Karena tidak punya kartu akses, saya ‘diselundupkan’ oleh teman saya. Dari lantai itu, saya naik tangga darurat ke lantai DDP. Saya mengetuk pintu belakang. Dengan wajah kaget, mereka membukakan pintu dan saya menyerahkan surat lamaran,” kisahnya.
Selama magang di DDP, Chris hanya dipercayakan pekerjaan remeh-temeh seperti memfotokopi, menjilid buku, menerima telepon, dan menghidangkan kopi. “Saya tidak diizinkan menggambar. Tidak masalah, saya senang karena di situ saya belajar banyak,” katanya. Kesempatan datang saat ia mengobrol dengan freelancer yang datang ke markas DDP untuk mengambil honorarium. Ia memberi tahu Chris tentang lomba yang digelar Archie Comics. Ia pun kembali menggambar. Singkat cerita, ia dikaryakan Archie Comics untuk menyelesaikan komik Josie & The Pussycat. DDP, melihat bakat Chris, mempekerjakannya untuk GI Joe Sigma6. Sejak itu, pekerjaan yang mencari Chris, bukan sebaliknya.
Menggenggam predikat lulusan terbaik di angkatannya, ia bekerja selama setahun di Amerika sebelum kembali ke Indonesia pada 2006. Fullbright memang mensyaratkan agar penerima beasiswa setelah lulus menjalani “masa bakti” 2 tahun di Tanah Air. Namun, setelah 2 tahun, Chris tidak kembali ke Amerika, meski tawaran banyak. “Saya punya idealisme sendiri, antara lain ingin makin memopulerkan komik,” katanya. Pada 2008, ia mendirikan Caravan Studio di Jakarta, sebuah studio yang menggarap antara lain komik, concept art, dan desain mainan. Memasuki tahun keempat, studio ini makin banjir pesanan saja.
Jadi, apa titik awal dari semua ini? Chris menjawab, “Saya berasal dari keluarga sederhana. Waktu SD, om saya yang juga gemar membuat komik akan membelikan saya komik tiap kali saya jadi juara kelas,” kenang Chris. “Jika dalam satu tahun ada tiga catur wulan dan saya juara, berarti saya dapat tiga komik. Saya sering menggambar ulang komik-komik itu dan saya bertekad, saya harus bisa hidup dari menggambar.” (Teks: Sem Purba – Foto: Insan Sobri - Stylist: Dicky Zulkarnain)