HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 25/05/2012
Generasi Teks

Menulis makin membudaya, komunikasi suara memudar. Esquire sedang mengobrol dengan seorang relasi ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponsel kami. Isinya: “sudah sore, kita pulang yuk”. Si pengirim surat bukanlah seseorang yang berada di tempat lain, melainkan sesama teman Esquire yang saat itu turut serta dalam perbincangan dengan relasi itu. Dibandingkan dengan memberi isyarat verbal (yang belum tentu dapat dengan baik kami terima maksudnya), teman kami lebih memilih menulis pesan sebagai “strategi” berkomunikasi. Berkembangnya teknologi ponsel dan alat komunikasi mobile lainnya memang membuat “texting” menjadi bagian dari aktivitas kehidupan modern. Bahkan jika menilik survei tentang kebiasaan menulis di peralatan mobile dari Pew Research Center’s Internet dan American Life Project di Amerika beberapa waktu lalu, terdapat sebuah fakta yang menarik: kebiasaan menulis di kalangan remaja semakin membudaya, sementara komunikasi dengan suara justru semakin menurun.

Hasil survei bertajuk The 2011 Teens and Digital Citizenship Survey ini membeberkan beberapa fakta bahwa tigaperempat remaja di AS menggunakan pesan tulis. Volume rata-rata menulis di antara remaja meningkat dari 50 teks dalam sehari pada 2009 menjadi 60 teks pada 2011. Peningkatan ini lebih banyak terjadi di remaja usia 14-17 tahun, yang rata-rata dari 60 teks sehari menjadi 100 teks. Remaja pria naik dari 30 teks menjadi 50 teks sehari pada 2011, sementara remaja yang lebih dewasa menjadi kelompok yang paling “rajin” menulis dengan rata-rata 100 teks per hari pada 2011, dibandingkan 50 teks untuk kelompok remaja pria di kategori usia yang sama. “Ini menunjukkan perubahan kebiasan berkomunikasi para remaja dalam lima tahun terkahir dalam peralatan mobile,” ungkap survei tersebut.

Survei wawancara via telepon yang mengambil sampel 799 remaja berusia 12-17 tahun di Amerika ini juga menghasilkan fakta bahwa 63 persen remaja menyatakan mereka saling mengirim dan menerima pesan teks setiap hari dan hanya 39 persen yang menggunakan ponselnya untuk menelepon menggunakan suara, 14 persen dari seluruh remaja menyatakan mereka menggunakan jaringan telepon untuk berbicara dengan temannya. Ini menurun 30 persen dari yang menyatakan hal yang sama pada 2009. Bahkan 31 persen dari remaja menyatakan mereka tidak pernah berbicara dengan teleponnya lewat telepon. “Peralatan mobile memang telah mendominasi kehidupan berkomunikasi para remaja. Mereka remaja kerap menggunakan teks untuk email, instant messaging sementara pemanggilan suara ‘pindah’ ke belakang,” jelas periset senior Pew Amanda Lenhart.

Semakin “membudayanya” sikap menulis tentu tidak terlepas dengan berbagai kemudahan, baik dari segi layanan maupun teknologi produk. Di Indonesia sendiri, mahfum jika para operator jaringan ponsel saling berlomba meluncurkan produk-produk yang semakin memanjakan konsumen. Telkomsel misalnya pada akhir tahun lalu pernah meluncurkan layanan SMS-Reply-All. Pihak telkomsel saat itu menyatakan pelanggan dapat berkomunikasi dengan banyak orang secara bersamaan dengan menggunakan pesan pendek. Sementara Indosat pada Maret lalu mengeluarkan Paket Lengkap 24 Jam, sehingga pelanggan dapat mengirim 1.000 SMS dan menggunakan 100 MB untuk akses internet. “Kebutuhan komunikasi pelanggan meningkat seiring tuntutan koordinasi dengan berbagai relasi,” jelas Group Head Segment Management Indosat Insan Prakasa.

Dari segi teknologi, kemudahan pengguna untuk menulis pesan di ponselnya semakin mudah dengan perkembangan teknologi yang hadir silih berganti. Beberapa tahun terakhir, berbagai ponsel dilengkapi kemampuan Swype, metode input teks dengan satu jari bergerak terus-menerus di layar ponsel (tentu ponsel layar sentuh). Teknologi yang digunakan pertama kali pada Samsung Omnia II pada 2009 mendapat sambutan hangat pasar sehingga pada akhir tahun 2011, teknologi ini diperkirakan sudah preloaded di lebih dari 100 juta produk.

Yang juga terus mengalami perkembangan adalah teknologi pengenalan tulisan tangan (handwriting recognition). Belakangan, aplikasi Google Translate untuk produk berplatform Android sudah memungkinkan teknologi ini untuk mengenal tulisan China dan Jepang. Padahal sebelumnya sudah terdapat teknologi pengenalan suara (speech recognition) agar pengguna dapat mengunakan “kamus digital” ini hanya dengan mengucapkan kata yang dimaksud. “Namun terkadang Anda tidak tahu bagaimana cara mengucapkan kata yang ingin Anda terjemahkan, atau tidak tahu bagaimana mengetiknya, sehingga terkadang akan sangat mudah jika kita menulisnya,” ungkap Google. Peluang “menulis” mengalahkan “berbicara” amat terbuka lebar. Bisa jadi, hasil survei dalam 10-20 tahun mendatang menyebutkan para remaja tidak tahu bagaimana caranya melakukan pemanggilan suara di ponselnya. (Teks: Ramzy Hasibuan, Foto: Asiaselects/getty images, Dok: esquire)

 
 
Prajurit Akhir Pekan
Di Taiwan, banyak orang kekurangan waktu di hari-hari kerja untuk berlatih, sehingga mereka berusaha menjaga bentuk tubuh dan penampilan keren dengan berolahraga di akhir pekan atau hari-hari libur. Mereka dijuluki “para prajuri...
Rambut Bagi Pria
Tampil keren dengan aksesori alami Anda. Enaknya pria, kita tak perlu menambahkan macammacam untuk melengkapi penampilan. Tuhan telah memberikan aksesori alami untuk dimanfaatkan: rambut wajah. Menurut pengamat mode Muara Bagdja, citr...
Jangan Lupa Sarapan
Rutinitas pria eksekutif menuntut manajemen waktu yang efisien. Namun terkadang kesibukan mempersiapkan materi pertemuan bisnis menyita waktu di pagi hari. Alhasil tidak sedikit pria yang terpaksa melewatkan makan pagi, karena terbata...

Esquire May 2013 - Internal Affair - Esquire Style
Esquire May 2013 - Rory Asyari for Man & Toys
See More Video...
Seksi

 
SEKSI (ks): 1. Pesona yang berkaitan dengan daya tarik seksual (bisa apa saja: tubuh, suara, mata) pada manusia dan makhluk lain yang tolok ukurnya bersifat personal. Jadi sah saja kok kalau Anda ingin bilang, monyet itu seksi banget! 2. Tuntutan peran, profesionalisme, rekayasa imaji atas nama kreativitas seni. 3. Beda tipis dengan porno/vulgar, bisa dikaitkan dengan intelektualitas atau hal lain tetapi ujung- ujungnya tak bisa dipisahkan dari akar kata itu sendiri, seks. Sulit dibayangkan Anda berkata, Nenek itu seksi sekali pakai bikini!



Adrenaline 360

UNITY CASA by BRAVACASA

Bazaar Art Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013

AMICA Spring/Summer Festival 2013

9 Summers 10 Autumns

COSMO MEN 2013

Esquire Best Dressed Real Men 2013

Promo Ipad
 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 - 2013 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group