Mencari celah eksistensi di tengah maraknya media sosial. Sebuah email masuk kedalam kotak surat Esquire. Subjek email-nya cukup mencuri pandang: Jasa Tambah Followers. Pihak pengirim dalam isi suratnya mengklaim dapat membantu menambah follower (pengikut) akun Twitter tertentu dengan cepat. Untuk mendapatkan 500 follower, sang pemberi jasa memberi keterangan dapat melakukannya dalam seminggu pengerjaan.
There’s no such thing as a free lunch. Tentu semua ada ongkosnya. Di email tersebut juga tercantum “paket” harga. Untuk penambahan 250 follower, terdapat tarif 100 ribu rupiah. Sementara untuk jumlah besar seperti 3.000 follower, pengguna jasa harus merogoh kocek lebih dalam hingga 1 juta rupiah. Isi email tampak meyakinkan dan jauh dari kategori email spam, karena turut menampilkan nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi hingga sejumlah nama yang diklaim merupakan klien yang pernah menggunakan jasa mereka.
Hadirnya penjual jasa follower memang bukan barang baru. Shafiq Pontoh, Head of Brand and Business Development Salingsilang.com, perusahaan teknologi informasi yang meriset media sosial, memperkirakan fenomena ini mulai ada seiring meledaknya pengguna media sosial itu di Tanah Air akhir 2010. Maklum, dari data terakhir Infographic Labs di Februari lalu, jumlah pengguna di Indonesia ada di angka 19,5 juta orang sehingga menempati negara pengguna Twitter urutan ke-5 di dunia di bawah Amerika, Brasil, Jepang, Inggris. “Untuk Facebook sendiri (penjual jasa follower) sudah lebih dulu ada karena terkenal lebih dulu daripada Twitter,” ungkap Shafiq.
Perkiraan Shafiq boleh jadi benar. Menilik hasil pencarian otomatis di situs terkenal Kaskus, penawaran pertama penjualan follower di forum jual-beli dari situs beranggotakan lebih dari 2 juta orang ini tercatat pada Mei 2010 dan terus bertambah hingga kini. Seorang penjual dengan nama anggota “its.agie” misalnya, pada Maret lalu membuat lapak (istilah untuk thread tempat berjualan) yang menawarkan follower berjumlah lebih dari 19 ribu akun.
Tidak semahal paket dalam email yang diterima Esquire, si penjual hanya menjual akun ini seharga 300 ribu rupiah. Bahkan ketika Esquire mencoba menawarnya via SMS, si penjual masih memberikan harga “nett” 250 ribu rupiah dengan klaim bahwa para follower itu bukanlah akun “bodong” (palsu). “Follower aktif kok, kalau tidak percaya mention saja satu per satu,” jelasnya dalam balasan SMS yang lain.
Jasa penambah follower tampaknya semakin dilirik. Tweetvaganza misalnya baru memulai bisnis ini sejak Januari lalu. Sang pemilik Mufti Ali, bukan nama baru di bisnis teknologi informasi. Sebelumnya ia pernah menjadi profesional di sebuah perusahaan ponsel dan programming. Berawal dari seorang karyawannya yang melihat peluang mendulang uang dengan menjual jasa penambah follower, ide itu kemudian langsung diiyakan oleh sang bos. “Twitter sekarang sangat berkembang dan begitu berpengaruh. Bisnis ini tentunya memudahkan orang dalam melebarkan jaringan,” ungkap Ruddy Nugraha, perwakian dari Tweetvaganza.
Untuk mendapatkan 1.000 follower, misalnya, Ruddy menyebut waktu selama maksimal 2 minggu. Di antara waktu tersebut, perusahannya akan berusaha mencari akun induk serta akun target dan mengajaknya untuk mem-follow akun sang klien. Proses lain juga dilakukan dengan menggunakan software yang mendukung seperti Twitadder. “Sistem tersebut akan berjalan setiap harinya tanpa berhenti selama 24 jam dan secara otomatis terus berproses,” jelas Robby. Jika jumlah follower yang dituju sudah melebihi target, barulah operator akan menghentikan kendali sistem. Jika sang klien sudah melakukan pembayaran, barulah operator akan menyetujui proses sistem dan hasilnya follower akun klien akan bertambah dengan sendirinya. “Sistem pembayaran yang dilakukan biasanya bayar di muka. Ini menghindari klien yang kabur setelah proses sudah dijalankan,” ungkap Robby. Ia lantas bercerita tentang seorang kliennya yang merupakan salah satu pengusaha kulit. Proses menambah follower sudah dilakukan oleh sistem, tetapi sang klien tidak kunjung membayar. Maka operator pun tak akan “menekan tombol enter” sampai sang klien membayar.
Setelah berjalan sekitar dua bulan, Ruddy mengaku kliennya sudah mencapai puluhan. Sayang, Ruddy tidak mau bicara soal nominal keuntungan. Jika menilik paket yang ditawarkan Tweetvaganza, tarif sebesar 100 ribu untuk menambah 250 follower dan semakin besar pula jika jumlah pengikut yang diinginkan semakin banyak. “Keuntungan tidak terlalu besar karena setiap ingin mendaftarkan akun klien itu harus membayar registration code yang perlu diisi di software,” jelas Ruddy.
Namun perputaran uang dalam bisnis ini menurut Shafiq justru cukup memikat. Ia mempunyai teori lain soal cara kerja jasa ini. Pemilik jasa membuat semacam “grup” follower yang banyak sekali, yang masing-masing grup tersebut saling follow dan mempunyai follower. Teori lain, seperti layaknya koordinator peserta demonstrasi bayaran, penjual jasa akan tap in (mendekati) berbagai pihak pengguna Twitter. “Yang sekarang mudah didekati apa yang disebut sebagai anak-anak ‘alay’ yang masing-masing misalnya dibayar 50 ribu rupiah,” jelas Shafiq.
Sistem kerjanya kemudian bisa seperti “member get member”. “Jika bisa mendapat penghasilan 50 ribu per bulan misalnya saja tanpa melakukan apa-apa, tinggal terima komando kalau disuruh follow akun tertentu, maka tentu mereka akan follow,” lanjutnya. Untuk pesanan 100 ribu follower misalnya, maka kalkulasinya dibutuhkan modal 5 juta rupiah yang kemudian dijual ke klien dengan harga yang sudah berkali lipat. “Profit jasa ini bisa besar. Itu kalau hanya sebulan sekali, apalagi kalau beberapa kali.”
Semua yang terlibat dalam bisnis ini kemudian menurut Shafiq dapat menjadi savvy untuk melakukan hal semacam program member get member tadi. Bukan hanya pengusahanya yang mendapat untung, tetapi juga para “kontributor” follower, kendati mereka mungkin tahu bahwa dirinya dipergunakan untuk kegiatan jual-beli. “Ini menjadi sebuah hal yang seksi untuk bisnis,” jelas Shafiq. Perkembangan bisnis semacam ini tentu tidak terlepas dari keinginan berbagai pihak untuk mendapatkan pengikut secara cepat. Mendapatkan follower secara “konvensional” memang membutuhkan usaha keras dan waktu. “Bagaimana meningkatkan jumlah follower? Ya bisa saja dengan meng-tweet hal-hal yang passionate, kultwit (kuliah tweet), unyu-unyuan (lucu). Tapi hal ini ribet, mengapa tidak membeli saja?” jelas Shafiq. Hal senada dikemukakan Dimas Novriandi, Social Media Conversation Manager Prism, agensi inhouse sebuah perusahaan otomotif AS di Thailand, yang melihat individu yang ingin mendapatkan jumlah follower dengan cepat agar tampak terlihat gaul dan beken sebagai konsumen jasa ini. “Praktik ini biasanya terjadi di kalangan remaja, maupun beberapa orang dari kalangan artis yang membutuhkan pertambahan follower yang cukup signifikan agar terlihat tenar misalnya,” ungkapnya.
Tak hanya perseorangan, Dimas juga melihat adanya tuntutan dari klien yang menekan agensi atau admin media sosial sebuah merek atau perusahaan, dengan memberi target penambahan follower yang cukup tinggi dengan rentang waktu tertentu, membuat pihak ini mencari jalan pintas dengan membeli follower. Hal ini bisa dibenarkan jika berdasarkan keterangan Ruddy, bahwa klien-kliennya justru didominasi dari kalangan akun-akun bisnis, terutama bisnis yang baru merintis dan sedang berkembang yang melakukan promosi melalui Twitter seperti perusahaan kulit, cupcakes, dan madu. Sementara permintaan akun-akun personal justru tidak begitu banyak dibandingkan akun bisnis. Ruddy hanya menyebutkan bahwa salah satu kliennya adalah seorang blogger. “Dengan memiliki banyak follower, para pebisnis mungkin berharap promosi yang mereka lakukan bisa lebih maksimal.”
Promosi menurut Dimas memang salah satu tujuan masuknya sebuah merek atau perusahaan ke ranah media sosial. “Tujuan awal biasanya awareness terhadap brand. Ketika komunikasi pemasaran lancar via media ini, keputusan orang untuk membeli produk yang dipercaya bisa meningkat seiring dengan melihat cara komunikasi mereka di media sosial,” ungkapnya.
Kendati demikian, pria yang bertugas mengurus berbagai saluran media sosial milik klien ini menyebutkan, penambahan follower (bagi merek atau perusahaan) dengan menggunakan jasa penambah follower, efeknya belum tentu jelas karena para follower-nya bisa saja “didatangkan” dari berbagai penjuru dunia dan tidak bermanfaat bagi bisnis mereka sendiri. Shafiq sependapat jika jumlah follower tidak linear dengan peningkatan sales produk atau jasa penggunanya. Kebutuhan perusahaan menurut Shafiq sebenarnya sangat sederhana, bagaimana agar orang lebih banyak membeli produk atau jasa. Sementara dengan membeli banyak follower tetapi dari follower ini tidak ada yang membeli sehingga menjadi hal yang percuma.
“Berarti hanya melakukan spending yang tentu riskan untuk perusahaan,” jelasnya. Apalagi tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Dimas, tidak sedikit follower yang dibeli merupakan akun “antah-berantah” alias tidak jelas keaktifan penggunanya. Shafiq menyebutnya “follower bodong”. Namun istilah follower bodong ini dibantah oleh Ruddy.
Ia mengklaim follower target yang akan mereka ikutkan ke dalam akun klien adalah follower aktif. Ia bahkan menjelaskan, perusahaannya berusaha menyortir follower target sehingga para follower yang masuk memiliki minat yang sama dengan akun kliennya. Cara kerjanya dengan memilih beberapa akun induk yang sekiranya berkaitan dengan karakteristik akun klien. “Jadi ada semacam loyalitas dari follower kepada akun klien,” ungkapnya.
Ruddy kemudian memberi contoh. Misalnya, jika sang klien adalah majalah kesayangan Anda ini, maka sasaran akun induknya akan berupa berbagai akun fashion, digital, olahraga, yang intinya sesuai dengan karakter majalah Esquire yang mengedepankan gaya hidup pria.
Pro-kontra terhadap bisnis jasa ini memang belum akan surut dalam waktu dekat. Persoalan “akun bodong” dengan akun asli sendiri menurut Shafiq sulit dibedakan secara awam. Sementara peraturan tentang bisnis ini dari segi hukum legal belum ada. Namun secara etika maupun etika bisnis, ia menilai hal ini tidak baik. “Suatu akun produk tiba-tiba meledak jumlah follower-nya walau 90 persen dari akun pengikutnya adalah hasil membeli. Pemilik produk bisa saja mengklaim bahwa produknya laku dan berdampak pada marketing tools produk bersangkutan,” ungkap Shafiq Sementara Dimas melihatnya bahwa business is business. Ada permintaan pasti ada penawaran. “Kalau misalnya ada yang menggunakan jasa ini dan sama-sama tahu, kita tidak bisa melarang juga,” ungkapnya seraya menambahkan, bahwa citra yang didapatkan dari follower belum tentu menjadi baik. Citra di media sosial menurut Shafiq memang memegang peranan penting, sehingga baik orang maupun brand harus berpikir berulang kali jika ingin menggunakan jasa ini. Karena sekali “terbongkar”, citra bisa menjadi buruk. “Akunnya bisa di-bully secara massal (oleh sesama pengguna Twitter) sekaligus public relations disaster yang ongkos berbenahnya bisa lebih mahal dari membeli follower itu sendiri,” ungkapnya. (Teks: Ramzy Hasibuan & Ajeng Puspita - Foto: Getty Images & Erick Cris Wibowo)