Ketika seseorang ingin pindahan, Akbar Djohan yang dicari.
End to End
Mengapa harga buah impor di supermarket bisa lebih murah dibandingkan buah lokal? Salah satu alasannya, menurut Akbar Djohan, adalah ongkos distribusi buah impor yang bisa ditekan. Akbar, CEO PT MAX dan Rajapindah telat bergelut di bidang distribusi dan logistik semenjak tahun 2001. Itulah tahun ia mendirikan PT MAX setelah semenjak tahun 1994 pergi “ke luar pulau” dari tempat aslinya di Makassar dan menjadi karyawan di berbagai perusahaan.
Pengalaman Akbar sebagai seorang karyawan memang cukup beragam. Ia misalnya pernah bekerja di bank, perusahaan otomotif, dan farmasi. Terakhir, ia bekerja di perusahaan logistik yang berbasis di Singapura. Dari sana, ia membangun hubungan baik dengan klien-kliennya yang menanyakan kepadanya. “Ketika itu mereka berkata ‘Lu buka deh perusahaan, nanti kita support’. Saat itu saya sempat ragu, namun intuisi saya mengatakan, saya harus terus jalan. Apalagi melihat bagaimana perusahaan-perusahaan logistik saat itu belum terintegrasi,” ujar ayah dua anak ini.
Perusahaan itu berfokus pada jasa pengiriman alat-alat berat. “Kami melayani pemindahan sampai ke mana-mana, on shore ataupun offshore, dalam maupun luar negeri. Kami juga memegang, distribusi BTS operator telekomunikasi, seperti XL Axiata dan Telkom”, ungkap pria yang aktif di Kadin sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Intermoda dan Logistik ini. Ia melihat banyak perusahaan yang tidak memiliki waktu untuk mengurus pengiriman dan pengepakan barang-barangnya, sehingga ia menawarkan kemudahan pengiriman dari awal sampai akhir. Perusahaannyalah yang akan mengurus barang dari tempat awal (misalnya pabrik), mengatur pengapalannya ke Indonesia, mengurus custom cleareance-nya, menyediakan gudang, dan mengantarkan barang tersebut sampai ke area terpencil sekalipun. Kini, dalam kurang lebih 12 tahun perjalanan perusahaan yang berkantor di kawasan Sudirman, Jakarta, itu telah mencapai omzet 60 miliar rupiah per tahun, Akbar membocorkan.
Ia melihat dengan bentuk geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan, jasa logistik yang murah sangat diperlukan. Tiap pulau memiliki kekhasan produknya sendiri, apalagi dengan enam koridor ekonomi yang dicanangkan pemerintah melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI ). “Seperti contoh buah lokal tadi, biaya logistiknya tidak masuk akal. Dan akhirnya yang merasakan adalah masyarakat,” ujar sarjana hukum lulusan Universitas Hasanuddin dan master SDM dari Universitas Pancasila ini.
Merambah Retail
Setelah menganggap cukup pengalaman dalam jasa pengiriman alat berat dalam berbagai medan, Akbar merasa naif untuk tidak memperluas usahanya di bidang retail. Ia melihat mobilitas dan kesibukan masyarakat di kota besar yang tinggi. Maka ia mencoba menjamah bidang pindahan kantor, apartemen, rumah, sampai kost dengan budget yang ramah kantong, namun customer tetap merasa sebagai raja. Pada Juni 2011, berdirilah perusahaan jasa pindahan yang ia beri nama Rajapindah. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, Rajapindah sudah mencapai omzet 500 juta rupiah per bulan, memiliki 12 franchise (8 di antaranya di Jabotabek) dan mempekerjakan 50 orang di luar franchise.
Untuk cara pemasaran Rajapindah, salah satu cara yang ditempuh pria 43 tahun ini adalah lewat media sosial. “Kami membuat berapa iklan di majalah kawasan. Selain itu juga lewat Twitter. Ada beberapa artis yang jadi pelanggan kami dan mereka coba membantu lewat mention di Twitter”. Cukup ampuh, memang, mengingat kegandrungan masyarakat di kota besar untuk mem-follow selebriti lewat Twitter.
Berkomunitas untuk belajar
Dalam berkarier, Akbar mengakui bahwa ia memulai dari nol. Ketika ‘berkelana’ di berbagai perusahaan multinasional, ia menimba banyak ilmu di sana sampai akhirnya merasa percaya diri untuk membuat perusaah sendiri. Padahal, keluarganya tak ada yang berkarir sebagai pengusaha. Ayahnya adalah mantan bupati dan seluruh kakaknya berkarier sebagai pegawai negeri. Dalam rangka sukses sebagai pengusaha, ia memiliki prinsip yang unik. “Kegagalan adalah pengalaman terbaik atau guru terbaik. Tapi carilah kegagalan orang lain. Caranya gimana? Kita harus ikut dalam komunitas,” ujarnya tanpa bermaksud mengecilkan kegagalan orang lain. Ia sadar betul akan arti kegagalan. Misalnya ketika suatu saat ia tidak berhasil memenangkan tender di kementrian padahal menurutnya secara kualitas dan harga, perusahaannyalah yang sudah lebih unggul. “Merasa gagal mungkin tidak, tapi lebih ke kecewa. Akhirnya saya merasa jiwa saya bukan di sana. Saya lebih banyak berbisnis di sektor privat,” ucap mantan Wakil Sekjen BPP HIPMI ini. (Teks: Ayu Putri Dewanti • Foto: Hary Subastian)