Adalah seorang wanita bernama Coco Chanel yang pernah mengatakan bahwa fashion ada di mana-mana, bahwa fashion berhubungan dengan sebuah ide, dengan gaya hidup dan dengan apa yang tengah terjadi. Hal ini benar adanya. Perputaran fashion terus menimba inspirasi dari muara yang kadang maya, namun bisa pula dari muara yang selama ini berada di depan mata.
Sebutlah sang celana pendek atau shorts. Di tahun 2012 ini, siapa yang berpikir dua kali untuk memakainya? Elemen fashion ini terasa sangat organik berhabitat di dalam lemari pakaian siapa pun. Betapa tidak, sejak kecil kita telah diperkenalkan kepadanya. Sejak abad ke-19, celana pendek adalah celana yang diberikan kepada anak lelaki di Eropa dan Amerika Utara. Celana jenis ini adalah bagian dari seragam sekolah mereka sebelum mereka mencapai umur saat mereka berhak memakai celana panjang.
Budaya ini tak jauh berbeda dengan budaya di Indonesia. Sepasang celana pendek berwarna merah adalah seragam masa kecil yang dikenakan dengan bangga sebelum tiba saatnya untuk celana panjang berwarna abu-abu yang merupakan simbol datangnya kedewasaan. Tetapi mengapa awalnya celana pendek dinyatakan cocok untuk anak kecil semata? Jawabannya mungkin karena anak kecil lebih menghargai masa bermain mereka. Kepedulian akan apa pun selain berlari dan bersenang-senang belum terlintas di pikiran mereka. Maka sang celana pendek, yang tak sedikitpun mengganggu kebebasan mereka untuk bergerak, dinilai pas.
Dan saat kepedulian sosial mereka mulai muncul, mereka siap untuk meninggalkan simbol keluguan mereka. Tetapi manusia mana yang tak ingin merasa muda? Setelah dewasa sepenuhnya, kita kembali memakai celana simbol keluguan ini. Mungkin untuk menghidupkan kembali masa-masa bebas itu, untuk bermain kembali, namun dengan sudut pandang dan pola pikir yang lebih bijaksana. Tetapi, bila kita benar-benar memikirkannya, apakah selama ini kita pernah berhenti bermain? Ya, umur memang terus bertambah dan waktu akan berjalan tanpa henti, tetapi pada akhirnya kita tidak pernah berhenti bermain. Hanya permainannya yang berubah.
Permainan gaya musim ini menyuguhkan proporsi shorts yang berani. Potongan celana pendek pada umumnya adalah sampai lutut, namun para desainer mendobrak konvensi dan menantang para pengikut fashion untuk tak ragu melirik shorts yang betul-betul short. Lacoste dan Burberry tak tanggung-tanggung menghadirkan celana pendek fitted berpotongan sebatas paha yang diimbangi dengan jaket berproporsi lebih longgar.
Dolce & Gabbana melapisi celana super pendek dengan celana bermaterial jaring yang menjadi semacam safety net bagi yang belum sepenuhnya berani mencoba si super short. Hermés dan Louis Vuitton mengikuti aliran yang lebih chic, dengan Louis Vuitton memodifikasi tennis look menjadi lebih tampilan dengan elegansi yang minimalis dan dengan Hermés memberikan padanan santai yang pas untuk merelaksasikan si super short shorts berbentuk kemeja dengan potongan yang mengambil inspirasi dari piyama. (Teks: Alia Husin - ILustrasi: Erick Christ Wibowo – Foto: Dok. Esquire)