September silam , seorang pria bernama Benedict Le Gauche diliput seluruh media di Inggris dan membuat seisi negeri ini tertawa selama, hmm, 1 sampai 2 menit. Ia berusia 28 tahun, berasal dari Manchester, dan nama aslinya bukanlah Benedict Le Gauche. Itu julukan tabloid saja. Mana ada orang dari Manchester bernama Benedict Le Gauche. Sekilas sejarah: Manchester adalah kota yang dahulu penting di masa Revolusi Industri, pusat industri dunia. Kini, Manchester tak ada bedanya dengan kotakota menengah lainnya di Eropa, kecuali cuacanya yang buruk dan dua klub sepakbola yang tenar. Orangorang tenar dari Manchester sejauh ini—di samping para pesepakbola—adalah mereka yang membuat nada-nada ceria Joy Division. Ada satu lagi band yang ceria, yaitu The Smiths. Kota ini muram. Warganya, yang bereaksi terhadap cuaca yang buruk, adalah komedian alami, mereka diberkati dengan selera humor yang kering (“garing”) namun cerdas. Anggaplah itu payung atau atap yang menaungi mereka dari curahan hujan yang kerap turun tak terduga.
Balik lagi ke pria misterius bernama Le Gauche tadi. Ia menyita perhatian pers dalam waktu singkat dan perhatian publik dengan riwayat hidupnya, atau CV-nya. Le Gauche, lulusan jurusan filsafat (“Pemikiran yang tak berujung,” katanya), tampaknya baru saja mengikuti kursus yang disponsori negara untuk mereka yang telah lama menganggur (kursus yang dianggapnya “menggurui”). Lembar-lembar riwayat hidupnya yang bocor di internet pun jadi terkenal. Isinya ternyata adalah “karya agung”, yaitu satir terhadap formalitas.
Riwayat hidup itu dimulai dengan pencapaian-pencapaiannya berikut kecocokannya dengan pekerjaan yang tengah dilamarnya: “Saya dapat mengangkat barang lebih banyak daripada yang dapat saya angkat”, “Saya dapat berbaur di lingkungan yang orang-orangnya saya sukai”, “Terhitung Januari 2011, saya bebas penyakit kelamin”.
Berikutnya, Le Gauche menuliskan ringkasan riwayat kerjanya dengan jujur: ia pernah bekerja sebagai tenaga pembersih di sebuah organisasi wanita. Ia menghabiskan jam kerjanya “membuat email usil untuk Alison” dan “menelan gengsinya”. Sebagai tuan rumah di sebuah pusat seni rupa, ia mencuri biskuit dan terampil “dalam memindahkan kursi-kursi dari satu tempat ke tempat lainnya”. sebagai barista, ia menguasai seni “berpura-pura keren dari seharusnya”. Sebagai asisten penjaga toko di sebuah toko baju, ia belajar untuk menekan “hasrat untuk menguap”. Keterampilan utamanya (mungkin kelebihan terbaiknya?)? menyekop “kotoran kuda yang berceceran”.
Mengapa ini jadi contoh humor ala Inggris? Lembar-lembar itu mungkin bukan merupakan permainan katakata Le Gauche. Ia adalah seorang pria yang sedang marah. Izinkan saya memberi tahu Anda tentang komedian-komedian asal Inggris yang Anda cintai. Mereka juga merupakan pria-pria yang sedang marah. Monty Phyton, Peter Cook, Dudley Moore, dan Ricky Gervais. Mereka semua sedang marah. Demikian pula Mr. Bean. Mereka marah atas kebodohan dan kekakuan sistem kelas. Mereka marah karena birokrasi kronis. Tawa mereka adalah tawa yang sembunyi-sembunyi, gelak tawa yang diredam bantal. Ini adalah tawa atas rasa frustrasi. Itulah tawa yang menjadi identitas dan juga pusat kebudayaan kontemporer Inggris.
Mereka menertawakan apa pun. Jika menjadi lucu adalah tujuan utama pria Inggris—tujuan yang lebih mulia daripada tampil lebih keren atau sukses—karena jadi serius itu tak mengasyikkan? Ya, mungkin saja. Tapi percayalah, Benedict Le Gauche sangat lucu! (Teks: Alex Bilmes, Editor in Chief Esquire Inggris, Foto: Getty images, Sipa Press, Dok Esquire)