Republik Ceko bisa dibilang bukanlah tempat tinggal yang ramah bila Anda ingin melihat anak Anda setelah bercerai dengan ibu mereka (mantan istri Anda, maksudnya). Di atas kertas, segalanya terlihat nyaris sempurna, namun dalam 90 persen kasus, para ibu mendapat hak penuh untuk pengasuhan anak. Sebanyak 5 persen kasus memberikan hak asuh penuh pada ayah (yang, sayangnya, hanya terjadi bila sang ibu adalah pecandu narkoba, pekerja seks komersial, atau meninggal), dan sisa 5 persen lainnya adalah hak asuh bersama. Jadi, ketika istri saya meninggalkan saya dan membawa serta anak perempuan kami, saya memilih untuk memperjuangkan hak asuh bersama, walaupun saya tahu, pecundang di sebuah kasino pun akan mendapat kemungkinan lebih baik dari saya.
Pengadilan tingkat rendah, pemeriksaan pertama: hakim duduk di seberang saya. Wajah wanita itu dingin dan rambut putihnya tampak seperti helm abu-abu. Ia meminta saya mendeskripsikan menu yang akan saya masak untuk anak saya bila ia hidup berdua dengan saya—sarapan, makan siang, dan malam—untuk 3 hari. Mantan istri saya berdiri dari kursi dan berlari menuju jendela, berakting seperti muntah. Pengacaranya memandangi saya, menggerakkan bibirnya secara lambat sehingga saya bisa membaca kata: brengsek.
Hakim mengumumkan putusan, “Hak asuh anak diberikan pada ibunya. Ayahnya diizinkan mengunjunginya setiap akhir pekan kedua dan tiap Rabu kedua selama 3 jam.” Lalu ia menyebutkan tunjangan sebesar setengah gaji saya. Saya bangkrut dan saya kehilangan anak saya. Dan ketika saya memutuskan untuk naik banding, saya tahu kesempatan saya untuk mendapat hak asuh bersama adalah sebuah keajaban. Mantan istri saya tidak datang di naik banding. Hanya ada saya, pengacara saya, dan pengacaranya. Hakim memberikan putusan mengejutkan dan tak biasa: Anna dibolehkan menghabiskan waktu dengan kedua orangtuanya. Hak asuh bersama. Keajaiban saya telah terjadi. Namun belum juga tinta di surat putusan kering, saya sudah menerima surat di kotak pos saya: “Anna menderita ruam psikosomatik karena hak asuh bersama. Kami memohon peninjauan ulang.” Saya mengajukan keberatan dengan menyatakan anak kami tidak menderita ruam dan hak asuh bersama belum dimulai. Namun kasus itu kembali ditinjau, dan pengadilan menyatakan hasil yang bertentangan dengan hasil banding sebelumnya. Kini, 5 tahun kemudian, saya mengunjungi anak saya hanya ketika mantan istri saya membolehkan.
Kini, saya memiliki anak dengan istri baru saya, dan ketika ia bercerita tentang anak laki-laki kami, dia berkata dalam kata jamak “kami”. Ia tahu benar bahwa anak bisa menjadi senjata ampuh dalam pernikahan (dan perceraian) di Ceko, dan saya menjalani hidup dengan sadar bahwa segala sesuatu bisa diambil begitu saja. (Teks: Penulis Anonim, Kontributor Esquire Republik Ceko, Foto: Getty Images, Sipa Press, Dok Esquire)