“Merekalah yang “bertanggungjawab” atas berbagai macam wewangian yang Anda kenal.
Aroma adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata. Bentuknya yang abstrak karena hanya bisa dibedakan lewat penciuman hidung menyebabkan dibutuhkan keahlian tersendiri untuk menghasilkan sebuah aroma. Untuk mencium wewangian yang terlalu mencolok saja terkadang bisa membuat pusing, bayangkan pekerjaan seorang peracik wewangian yang harus bisa membedakan berbagai wangi. Perkenalkan, sebuah profesi yang bernama perfumer atau perfumier atau ‘nose’ . Merekalah orang yang memiliki indra penciuman yang tajam, spesifik, dan terlatih dalam membuat komposisi wangi dalam sebuah produk seperti parfum, sabun, lotion, dan sebagainya. Hanya ada satu sekolah khusus untuk menjadi seorang perfumer, yaitu ISIPCA (Institut Supérieur International du Parfum, de la Cosmétique et de l’Aromatique Alimentaire), sebuah sekolah untuk pasca sarjana di Prancis yang mengkhususkan diri pada dunia peracikan aroma untuk keperluan kosmetik dan makanan. Berikut ini beberapa perfumer ternama dunia
Rodrigo Flores-Roux
Pria asal Mexico ini memulai kecintaannya pada dunia seni sedari kecil karena sering membua buku koleksi seni milik orang tuanya. Hobi yang “tidak normal” itu muncul karena keluarganya tak memiliki TV di masa kecilnya. Dari keluarganya pula ia mulai mengenal dan jatuh cinta pada wangi-wangian. Bahkan ia mengakui bahwa keluarganya lebih banyak tahu tentang dunia parfum dibanding dirinya yang sudah menjadi seorang perfumer. Sebelum membuat aroma wangi parfum, ia pernah menjadi peracik wangi sampo herbal Novo HairKleen 2000, sampo khusus bulu pubic, dan sampo khusus anjing. Wangi favoritnya adalah wangi jeruk, sampai-sampai ia dijuluki king of citrus. Dua jenis wangi yang ia tak tahan untuk hirup adalah Opium (getah buah candu) dan Shalimar (wangi manis seperti vanili).
Silvana Casoli
Namanya begitu terkenal belakangan ini ketika diberitakan Maret lalu bahwa ia membuat cologne khusus untuk Paus Benediktus XVI. Tidak dijual, melainkan khusus hanya untuk digunakan Sri Paus. Sebelumnya ia juga dipercaya membuat wewangian bernama Water of Hope dan Water of Faith bagi kalangan Gereja Katolik Roma. Sebagai seorang perfumer, wanita asal Italia ini memilih untuk mengekstraksi bahan-bahan wewangiannya secara tradisional. Ia memang wanita yang rendah hati dan rela menjelajah ke berbagai belahan dunia seperti Suriname dan Himalaya dan melakukan penelitain bertahun-tahun demi mendapatkan wewangian autentik. Perjuangan berat itu juga ia temukan ketika dalam proyek cologne untuk Sri Paus. Ia hampir menyerah karena merasa kesulitan mendapatkan wewangian yang merefleksikan kedamaian dengan aroma yang ‘pure and clean’ namun juga sesuai dengan pribadi Sri Paus yang pencinta alam.
Ann Gottlieb
Karier Gottlieb dimulai lebih dari 3 dekade lalu ketika bekerja di bawah Estee Lauder. Di sana, ia mendapat banyak pengalaman tentang industri parfum, dan memberanikan diri untuk membuat perusahaan sendiri, Ann Gottlieb Associates, pada 1983. Sekarang, perusahaan yang berbasis di New York ini menjadi salah satu perusahaan ternama dalam
yang menangani produk dari pewangi ruangan, sabun, deodoran, sampai parfum. Ia bisa menghirup 100 wewangian secara berurutan dan membedakan satu wangi dengan lainnya. Sebagai seorang yang sangat “bergantung” pada indra penghirup, Gottlieb pernah mengajukan asuransi untuk hidungnya. Sayang, pada saat itu (10 tahun lalu), tidak ada perusahaan asuransi yang mengabulkan pengajuannya karena tidak ada alat ukur yang objektif apakah ia bisa menghirup wewangian atau tidak. Ingatan Gottlieb tentang parfum adalah wangi parfum Old Spice yang dikenakan ayahnya dan ia hirup wanginya ketika ia mencium sang ayah sebelum berangkat kerja di pagi hari.
Jacques Cavallier-Belletrud
Sebagai generasi ketiga dari keluarga perfumer, tidaklah heran bila Jacques Cavallier-Belletrud begitu tersohor, sampai-sampai Louis Vuitton memercayakan parfum pertamanya semenjak 1930-an. Saat ini ia bekerja pada Firmenich, sebuah perusahaan pembuat wewangian dari Swiss. Untuk proyek ini, ia rela berkeliling dunia untuk mendapatkan wangi yang dirasa cocok. Sampai sekarang parfum tersebut memang masih dalam proses pembuatan oleh pria yang memenangkan Prix Francois Coty Parfumeur Awards tahun 2004. (Teks: Esquire/Foto: Brad Barket/gettyimages, dok esquire)