Guna liburan harusnya untuk melepaskan penat dan tak menyusahkan. Jaka menyediakan hal itu.
> Liburan Mudah
Bekerja terus-menerus hanya akan membut penat sehingga produktivitas terganggu. Dibutuhkan liburan sebagai sarana penyegaran. Namun, dengan kesibukan hidup di kota besar, terkadang sulit mencari paket liburan yang mudah dan murah.
Jaka Wiradisuria, CEO valadoo.com, mencoba memberikan solusinya. Dengan ‘jualan’ berupa paket diskon wisata dalam bentuk online travel agency, Jaka menjelaskan, “Kami mencoba menjawab kebutuhan orang di kota besar yang bosan dengan kemacetan, dan ingin liburan, tapi tidak tahu caranya.”
Dengan menyasar pada b2c (business to consumer), Jaka bersama 2 orang rekannya mendirikan Valadoo.com di Agustus 2010 dengan menawarkan produk gaya hidup diskon seperti restoran, kafe, dan travel, dengan merchant awal di antaranya adalah Anomali Coffee dan Coffee Toffee. Namun menyadari passion para timnya yang lebih banyak di bidang travel, maka valadoo.com pun berubah haluan dengan fokus pada domestic weekend getaway dengan segmen pasar warga urban, SES B/B+/A-, dan berusia antara 20-35 tahun.
Valadoo.com dimulai dari bincang-bincang Jaka bersama salah satu partnernya, Aris Suryamas, lewat email tentang kesempatan business deal provider. Karena merasa cocok dengan kesempatan ini, maka mereka langsung membuat perseroan terbatas bagi usaha ini sebagai salah satu bukti keseriusannya. “Untuk bisnis yang sifatnya consumer base, kami punya banyak klien korporat seperti kafe dan restoran. Tidak mungkin bisnis ini jalan jika hanya mengandalkan consumer berbasis individu. Harus punya back up legal entity,” ujar alumnus ITB ini.
Pemilihan nama produk juga berdasarkan pertimbangan tertentu. “Kami tidak ingin pakai nama dengan kata ‘diskon’. Maka tercetuslah nama ‘value added’ yang disingkat ‘valad’. Kami suka yahoo, kami suka google, maka kami tambahkan dua huruf ‘o’ di belakangnya,” jelasnya, menambahkan Valadoo kini memiliki kepanjangan vacation leisure activity and destination online offering.
> Dari Energi sampai Ayam
Awal mula terjunnya pria 27 tahun ini di dunia bisnis sudah dimulai ketika tahun 2007 ketika masih bekerja di perusahaan manufaktur multinasional sebagai account executive.
Keinginan untuk bisa berdiri sendiri dengan memiliki usaha pribadi masih ia pendam karena melihat ada kesempatan bekerja di luar negeri dengan menjadi pegawai di sana. Maka, ia pun menjalankan bisnis dengan masih berstatus pegawai. “Bisnis pertama saya ketika berpartner dengan rekan dari jurusan teknik kelautan, di bidang renewable energy. Agak gila sebenarnya, karena skala bisnis sampe ratusan juta dolar AS,” ujar Jaka yang mencontohkan bisnisnya ketika itu mirip dengan film Wall Street 2 yang dibintangi Michael Douglas dan Shia LaBeouf. Karena bisnis ini, keduanya sempat mengikuti sebuah World Renewable Energy Conference di 2008 di mana sang partner menjadi pembicara. Sayang, karena modal yang dibutuhkan terlalu besar, usaha ini pun terpaksa ditunda.
Tak berkecil hati, Jaka pun kembali mencoba berbagai usaha di bidang lain, salah satunya adalah peternakan. Ia menjadi pemasok ayam probiotik. Hanya membutuhkan waktu 6 bulan, usaha ini sudah nampak stabil, sehingga ia pun memutuskan keluar dari perusahaan dengan posisi consumer retail manager dan menjadi pebisnis seutuhnya. Apalagi, ia sudah banyak memiliki jejaring di bidang retail. Namun sayangnya, lagi-lagi, usaha yang ia jalankan pun menemui kendala dari pihak klien yang bermasalah dengan pembayaran. Ia teringat akan kata temannya, yang sudah mengingatkan risiko bisnis, “Lo belum berbisnis, Jak, kalau lo belum rugi.”
> Rangkul Follower
Dengan posisi bisnisnya sekarang ini, Jaka sudah merasa nyaman karena sudah terfokus dan sesuai dengan passion-nya, tak lagi mencoba berbagai bisnis yang saling tak berhubungan. Ia pun sudah mulai bisa ‘membaca’ lawannya dalam bisnis. “Pesaing di dunia travel memang banyak. Karena itulah kami mencari hal yang membedakan kami dengan pesaing. Kami melihat, terkadang customer tidak mau beli paket dari seseorang yang belum mereka percaya,” ujar pria yang berorangtuakan dokter ini. Oleh sebab itulah, perusahannya pun merekrut ‘selebriti twitter’ yang ahli di bidang travelling dan memiliki followers banyak.
Masalah kepercayaan consumer pada perusahaan online pun ia rasakan dalam soal pembayaran. “Di Indonesia, soal penipuan bisnis online itu tidak sedikit. Hal itulah yang menjadi tantangan agar consumer bisa percaya pada kami”, ujar pria yang mewajibkan traveling tiap bulannya. Traveling sebagai sarana refreshing atau survei untuk pekerjaan? “Kalau kita sedang mengerjakan sesuatu, lalu lupa tidur dan makan, tapi tetap enjoy, berarti itu passion,” ujar pria yang beristrikan mantan presenter televisi ini. (Teks: Ayu Putri Dewanti • Foto: Richard Gartodus)