Melestarikan motif tato nusantara.
“Kata ‘melestarikan’ itu terlalu berat untuk saya sandang,” tukas pria yang memperkenalkan diri sebagai Aman Durga Sipatiti. “Mungkin lebih tepatnya, ‘meneruskan’ apa yang sudah ada.” Ah, sebenarnya tidak masalah jika Durga merendah. Kenyataannya memang demikian: ia melestarikan seni tato nusantara. ”Adalah menarik untuk mengetahui bahwa seni tato Indonesia tercatat sebagai salah satu yang tertua di dunia. Suku Mentawai, Dayak, Nias, dan beberapa suku di Nusa Tenggara, telah membubuhkan tinta ke tubuhnya sejak ratusan tahun yang lalu sebagai bagian dari seremoni dan ritus peralihan. Namun, seperti banyak jenis kesenian lain di Indonesia, seni tato tradisional berstatus terancam punah. Hal ini menggugah Durga. “Saya sedih jika seni tato asli Indonesia akan lenyap karena kurang diminati orang Indonesia sendiri,” ujarnya.
Kecintaan mewarnai kulit manusia ini membawanya mendalami seni tato dari Suku Mentawai di Sumatra Barat dan Suku Dayak di beberapa wilayah Kalimantan, termasuk teknik tato tradisionalnya yang dikenal dengan hand tapping. Untuk mempraktikkan teknik ini, seseorang membutuhkan semacam jarum dan alat ketuk, berikut bantuan orang lain untuk meregangkan kulit klien yang ditato. Menurut Durga, orang yang ditato menggunakan teknik ini akan mendapatkan pengalaman estetis dan spiritual. “‘Estetis’ maksudnya tato sebagai seni yang indah dan ‘spiritual’ merujuk ke tingkat pemahaman orang tersebut mengenai seni tato dan makna motif yang dibubuhkan,” jelas pria yang juga menato menggunakan mesin tato listrik ini.
Durga yang berpraktik custom tattoo di Cikini, Jakarta ini juga hanya bersedia menato gambar-gambar yang bertalian dengan kebudayaan Indonesia. Ini adalah titik kata. Dengan demikian, menolak klien yang ingin motif di luar itu sering terjadi. “Ketika membuka praktik pada 2008, saya tidak berpikir bahwa akan banyak menolak orang,” jelas Durga. “Yang saya pikirkan, mungkin butuh waktu buat orang-orang untuk memahami komitmen saya terhadap motif-motif tato Indonesia.”
Durga tampaknya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk orang mengapresiasi keseniannya. Berkat rutin mengikuti pameran dan konvensi tato di banyak negara, Durga menuai perhatian dari banyak media dan pencinta tato. Mereka begitu tertarik dengan motif dan teknik tradisional yang menjadi ciri khas alumnus ISI Yogyakarta ini.
Dilihat dari sejarah tato di Indonesia, maka dapat dikatakan, adalah natural jika kini merajah kulit menjadi gaya hidup. Mengutip Durga, tato mewakili kebebasan berekspresi. Dan masyarakat Indonesia kini makin dapat menerima beragam ekspresi termasuk tato. Akan halnya Durga, ia pelestari tato Indonesia. Tak masalah jika ia keberatan dengan julukan itu. (teks: sem purba - foto: widi arta seputra)