Problema kaum pria saat menghadapi realitas pahit akibat pertambahan usia.
Baiklah, mari kita akui secara jantan, tak ada seorang pun yang menyukai pertambahan usia. Bahkan bagi Anda yang ketika masa kecil mengidam-idamkan untuk cepat menjadi dewasa sekalipun. Percayalah! Anda mungkin bisa berusaha bijak untuk menghadapi lilin berbentuk angka yang menyala di atas kue ulang tahun, tapi mungkin akan terasa lebih sulit lagi apabila menghadapi realitas yang tersaji pada cermin setiap pagi. Tak ada yang menyukai kehadiran keriput atau hilangnya (atau memutihnya) helaian rambut. Apalagi saat menyadari bahwa stamina dan daya fisik Anda tidak seprima seperti dahulu. Namun, ‘menua’ adalah sebuah proses yang tidak bisa kita hindari (bahkan oleh superstar sekaliber Harrison Ford sekalipun!). Persiapan lebih matang bisa menjadi solusi untuk menghadapi berbagai persoalan akibat pertambahan usia, salah satunya andropause yang kerap menjadi momok bagi setiap pria. Beberapa tanda dari andropause, antara lain penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, kelelahan, depresi, kerap mengalami perubahan suasana hati, lekas marah, kehilangan memori, insomnia, lemak tubuh meningkat, penurunan massa otot dan osteoporosis.
Menurut dr. Anton Darsono Wongso, SpAnd, andropause adalah sindrom klinis pada pria usia lanjut yang disebabkan penurunan kadar testosteron akibat menurunnya fungsi poros kelenjar hipotalamus, hipofisis, dan gonad. “Kadar testosteron akan menurun secara perlahan dengan bertambahnya usia yang dimulai kira-kira ada usia 40 tahunan, biasa disebut proses aging, atau karena sebab-sebab lain,” ujar andrologist yang berpraktik di Omni Alam Sutera ini.
Apakah andropause bisa dikatakan sama seperti menopause yang terjadi pada wanita? Bisa dibilang menyerupai, tapi tidak sepenuhnya sama. Menurut Dr. dr. Nur Rasyid, SpU, terdapat beberapa perbedaan antara sindrom andropause dengan menopause. “Pada wanita tandanya jelas dan penurunan hormonnya sangat drastis. Kalau pada pria, tandanya tidak jelas dan proses penurunannya gradual,” ungkap dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Asri itu. Secara hormonal, penurunan sel-sel penghasil hormon pada perempuan menopause dan pria andropause itu mempunyai kesamaan (homolog). Namun, bila proses reproduksi pada perempuan menopause berhenti total, pada pria andropause masih bisa menjalani fungsi reproduksi tetapi mengalami penurunan.
Dewasa ini, terapi sulih hormon dipercaya sebagai salah satu solusi untuk menangani andropause. Tak hanya ramai dipraktikkan di luar negeri saja, terapi sulih hormon juga sudah berkembang di Tanah Air. Selama 5 tahun terakhir, praktik terapi sulih hormon telah menjadi pilihan bagi pria dan wanita yang hendak mencegah dampak negatif dari proses penuaan. Terapi sulih hormon (hormone replacement therapy) merupakan sebuah usaha yang mencakup berbagai upaya untuk: mengembalikan parameter testosteron pada kadar normal menengah, meningkatkan masa dan kekuatan otot, mempertahankan bone mineral density, meningkatkan kognisi dan mood dan meningkatkan fungsi psikoseksual. Untuk teknisnya, tersedia beberapa cara: minum (oral), oles (gel), suntik (injeksi) dan obat herbal (alternatif). Menurut dr. Anton D. Wongso, preparat testosteron merupakan material yang banyak digunakan dalam terapi ini, baik lewat yang diminum, gel yang dioles ataupun suntikan.
Sebelum mengikuti terapi sulih hormon, penderita harus membuktikan bahwa keluhan yang dideritanya itu bukan bersifat subjektif belaka. “Harus ada keluhan yang terbukti secara klinis oleh pemeriksaan dokter. Semuanya itu bisa dilihat dengan memeriksa kadar testosteron dalam darah,” ujar dr. Nur Rasyid. Bila ternyata orang tersebut terbukti menderita andropause, bisa dilakukan tahap pemeriksaan fisik lainya. Pemeriksaan tingkat kekentalan darah dan prostat menjadi opsi selanjutnya. Menurut dr. Nur Rasyid, ada beberapa orang dengan kriteria tertentu yang tidak dianjurkan untuk menjalani terapi sulih hormon, yakni penderita kanker prostat dan pemilik darah dengan tingkat kekentalan tinggi. Bagi orang dengan prostat bermasalah, terapi ini bisa meningkatkan risiko kanker prostat. Untuk yang memiliki tingkat kekentalan darah yang tinggi, terapi ini bisa menambah kental darah sehingga mengakibatkan stroke atau serangan jantung.
Apakah terapi sulih hormon aman dan tidak memiliki dampak negatif? Menurut dr. Anton D. Wongso, terapi ini bisa menimbulkan efek samping berupa naiknya berat badan, pembesaran prostat, peningkatan jumlah sel darah merah dan munculnya jerawat. Selebihnya, tidak ada dampak negatif yang benar-benar merugikan. Semuanya bisa diminimalisasi dengan pengawasan dokter ahli. Bahkan dr. Nur Rasyid sangat menganjurkan terapi ini bagi siapa saja yang membutuhkan karena manfaat yang dijanjikannya. “Terapi ini bisa memperbaiki kondisi tulang dan pembuluh darah. Bagi penderita diabetes, penyakitnya akan mudah dikontrol,” ungkapnya.
Terapi sulih hormon di Indonesia belum sepopuler di negara-negara Barat. Apalagi, pemeriksaan andrologis dan hormon testosteron juga tidak termasuk dalam item medical checkup. Tidak ada juga perusahaan asuransi yang meng-cover terapi sulih hormon. Di Indonesia, terapi ini lebih banyak dijadikan solusi untuk mengatasi gangguan gairah seksual yang menurun dan disfungsi ereksi akibat faktor hormonal. Untuk terapi tiap 3 bulan, biaya terapi sulih hormon diperkirakan bisa mencapai 3 juta rupiah per satu kali terapi. Untuk kaum wanita, biayanya bisa lebih murah lagi. (foto: iStockphoto/Thinkstock, Dok. Esquire)