Kejahatan dengan menggunakan senjata api (senpi) menjadi momok menakutkan akhir-akhir ini. Selain peristiwa di Kelapa Gading yang diceritakan pada awal artikel ini, kita mungkin masih ingat peristiwa perampokan toko emas di Ciputat, Tangerang, kasus penembakan wartawan TVRI hingga terjangan peluru dalam kasus penyerbuan geng motor yang seperti terjadi berurutan di beberapa bulan terakhir.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kombes Rikwanto mengutarakan pihaknya tengah mendeteksi seberapa banyak dan dari mana saja asal senpi itu berasal, yang menurutnya kebanyakan adalah senpi ilegal. “Kita sedang telusuri juga tempat pembuatan senpi tersebut, karena sebagian senjata seperti buatan home industry,” jelasnya.
Tak hanya senjata “rumahan”, senpi ilegal menurut Rikwanto berasal dari senjata pabrikan yang pernah digunakan di daerah konflik seperti Palu, Aceh, Timor Leste, dan sebagian lagi diselundupkan dari luar negeri. Polda Metro Jaya sendiri sejak Januari 2012 sudah menyita 37 senpi yang 80 persen adalah senjata rakitan. “Ini berkaitan dengan terorisme yang biasanya memang senjata pabrikan tetapi tanpa nomor registrasi,” jelasnya.
Selain senpi ilegal, langkah preventif untuk mengurangi risiko yang bisa ditimbulkan dari senpi dilakukan dengan cara pemberian izin penggunaan senpi resmi yang sudah sangat selektif dan penarikan senpi yang sempat sudah keluar. “Tren pengajuan permohonan senpi sendiri menurun. Kami hanya memberikan kepada orang-orang yang bisa mengajukan permohonan penyimpanan senjata. Misalnya saja ada pejabat baru Bank Indonesia, karena sudah diatur UU dan layak diberikan untuk keamanan diri,” ungkap Rikwanto.
Saat ini pula pihak Polda sedang menarik senjata resmi yang sempat sudah keluar, misalnya yang sudah habis masa izin, atau orang yang menyimpan sudah tidak melapor lagi karena berbagai hal. “Saat ini sudah berhasil menarik sekitar 70 persen senjata resmi. Sisanya sekitar 1.400 masih dipegang oleh orang-orang yang resmi. Namun kita akan terus memantau,” pungkas Rikwanto. (Teks: Dicky Zulkarnain & Ramzy Hasibuan/ foto: Dok. Esquire)