HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 10/02/2012
Interpreter Musik dari Hati

Beethoven mungkin tersenyum dari alamnya saat mendengar komposisi Symphony No. 7 miliknya dimainkan dalam pentas orkestra The Symphony of My Life, Desember lalu. Sang konduktor Avip Priatna, menganggap komposisi itu sebagai salah satu elemen penting dalam hidupnya, sehingga patut dibawakan dalam pentas perayaan 20 tahun berkarya di dunia orkestra, baik dalam dan luar negeri. Ya, Avip memang tak hanya dikenal di Indonesia. Dirigen terbaik di kompetisi paduan suara internasional di Torrevieja, Spanyol, 2011 ini memang sudah dikenal bertangan dingin membawa orkestra dan kelompok paduan suara (PS) Tanah Air untuk berjaya di berbagai ajang internasional.

Bagaimana sesungguhnya Anda melihat simfoni kehidupan Anda?
Tidak terasa selama 20 tahun saya telah melakukan berbagai hal. Perjalanan saya mulai dari menekuni musik itu banyak warnanya: bagaimana dahulu ketika saya mau sekolah musik, banyak tantangannya sampai akhirnya berhasil. Walau banyak tantangan, akhirnya saya bisa seperti sekarang ini karena saya cinta musik klasik. Konser kemarin terbagi dua, yaitu Symphony No. 7 dan simfoni vokal Gloria karya Francis Poulenc. Dua karya ini menjadi penting dalam hidup saya. Beethoven itu adalah titik saya memutuskan menjadi konduktor orkestra. Komposisi ini yang saya bawakan ketika ujian diploma di University of Music and Performing Arts Vienna, Austria. Sementara Gloria adalah titik saya memutuskan menjadi konduktor paduan suara.

Masih ingat momen ketika ujian diploma dulu?
Karya Beethoven itu lagu wajib. Semua kandidat diploma harus membawakan komposisi itu. Ya kebetulan setelah saya selesai membawakannya, seluruh profesor penguji punya satu suara, straight A. Sebenarnya bukan soal nilainya, tapi spirit simfoninya saat saya meng-conduct itu yang membuat saya tergetar untuk lebih menekuni konduktor orkestra. Karena saya sebelumnya lebih banyak di paduan suara. Dulu waktu saya masih tingkat awal kuliah di Unpar (Universitas Parahyangan), kaset Gloria itu yang saya dengar. Suaranya sangat “wah”, dan berbeda dengan keadaan saat itu karena paduan suara lebih biasanya hanya saat ada hari nasional, 17 Agustus atau acara-acara liturgi. Padahal literatur atau repertoar paduan suara jauh lebih beragam. Itu yang membuka mata saya untuk mulai menjelajahi dunia paduan suara sekaligus jatuh cinta pada dunia itu.

Apa pencapaian tertinggi Anda dalam 20 tahun perjalanan karier?
Sebenarnya sudah biasa kalau seseorang mencapai level tertentu, maka ia akan ingin lebih. Ya tentu pencapaian saya sangat relatif. Apa yang saya rasa sebagai sebuah pencapaian, belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Tapi memang ada beberapa momen yang membuat saya berkesan, terutama saat bersama tim PS Unpar berhasil menjadi juara tiga kali berturut-turut (tahun 1990, 1992, 1994) di Festival Paduan Suara ITB. Di sana kami mendapat piala bergilir yang sebelumnya belum pernah ada. Setahun kemudian kami bahkan juara di Belanda. Itu pencapaian yang “wah” juga. Begitu pun ketika saya dipercaya meng-conduct sebuah orkestra di Jepang. Saya tentu tidak pernah berpikir punya cita-cita seperti itu. Tapi tiba-tiba ada kesempatan. Kalau mau jujur, apa sih yang kurang dari konduktor Jepang? Tetapi mereka ternyata memercayai saya. Momen itu menjadi kesempatan untuk kita menunjukkan, walau orkestra bukan “budaya” kita, namun kita sudah diberi kepercayaan. Begitu pun ketika kami tampil di Jerman untuk membawakan karya Beethoven. Apa sih yang kurang dari paduan suara di Jerman, apalagi membawakan Beethoven? Tetapi mereka ternyata mau menyaksikan paduan suara dari Indonesia.

Bagaimana ceritanya sampai bisa ke Jepang?
Kebetulan saya dengan Batavia Madrigal Singers (BMS) sering mengadakan pementasan. Nah pada saat itu ada artist agent yang menonton pementasan. Akhirnya mereka mengajak saya, beserta BMS dan orkestra dari Jepang, pentas di Singapura, Macau Music Festival, kemudian setahun kemudian di Jepang.

Kalau kegagalan terbesar?
Kegagalan tentu banyak. Bahkan di pementasan rutin pun kadang-kadang saya merasa tidak maksimal. Secara spesifik saya tidak pernah terlalu memikirkan sebuah kegagalan. Saya orangnya kalau sudah terjadi, ya sudah. Namun tentu harus terus diingat sebagai sebuah kesalahan yang jangan sampai terulang.

Apa sebenarnya kelebihan kita hingga menarik perhatian luar negeri?
Orang kita tidak bisa disamaratakan dengan orang luar negeri. Musik atau art itu sifatnya tetap subjektif. Orang akan bisa melihat jika seseorang atau sebuah grup memang mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri. Ketika saya pentas di luar negeri, ada orang yang bertanya kepada saya, “Anda bisa ya mengeluarkan suara paduan suara seperti itu?”, saya hanya jawab, “Tidak tahu. Saya hanya membayangkan suara seperti itu. Lalu saya hanya mengarahkan dan kami keluarkan bunyi itu”. Ternyata hal itu “sesuatu” untuk mereka. Sesuatu...hahaha...kayak Syahrini! Kalau menurut saya, kita tidak sekadar menyanyikan not-not musik, tetapi bernyanyi dari hati. Itu yang membuat kita berbeda. Dengan cara seperti itu, musik kita sampai kepada penonton. Kita bisa “berkomunikasi” dengan penonton. Musik ini memang sulit, makanya untuk membuat “bahasanya” bisa keluar dari hati. Peringkat atau menjadi juara itu bonus, yang terpenting memang bagaimana musik bisa disalurkan dari hati dan tersampaikan ke penonton.

 
 
Rambut Bagi Pria
Tampil keren dengan aksesori alami Anda. Enaknya pria, kita tak perlu menambahkan macammacam untuk melengkapi penampilan. Tuhan telah memberikan aksesori alami untuk dimanfaatkan: rambut wajah. Menurut pengamat mode Muara Bagdja, citr...
Jangan Lupa Sarapan
Rutinitas pria eksekutif menuntut manajemen waktu yang efisien. Namun terkadang kesibukan mempersiapkan materi pertemuan bisnis menyita waktu di pagi hari. Alhasil tidak sedikit pria yang terpaksa melewatkan makan pagi, karena terbata...
Dilahirkan Dipuja Dicemooh Dikenang
Pagi itu, penduduk Edo terenyak. Sepanjang hidup mereka, boleh jadi tidak ada yang pernah melihat benda semacam itu sebelumnya. Kapal-kapal besar, mengeluarkan asap dari puncaknya, dan terbuat dari besi hitam legam. Kapal-kapal itu me...

Esquire May 2013 - Internal Affair - Esquire Style
Esquire May 2013 - Rory Asyari for Man & Toys
See More Video...
Seksi

 
SEKSI (ks): 1. Pesona yang berkaitan dengan daya tarik seksual (bisa apa saja: tubuh, suara, mata) pada manusia dan makhluk lain yang tolok ukurnya bersifat personal. Jadi sah saja kok kalau Anda ingin bilang, monyet itu seksi banget! 2. Tuntutan peran, profesionalisme, rekayasa imaji atas nama kreativitas seni. 3. Beda tipis dengan porno/vulgar, bisa dikaitkan dengan intelektualitas atau hal lain tetapi ujung- ujungnya tak bisa dipisahkan dari akar kata itu sendiri, seks. Sulit dibayangkan Anda berkata, Nenek itu seksi sekali pakai bikini!



UNITY CASA by BRAVACASA

Bazaar Art Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013

AMICA Spring/Summer Festival 2013

9 Summers 10 Autumns

COSMO MEN 2013

Esquire Best Dressed Real Men 2013

Promo Ipad
 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 - 2013 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group