HomeSubscribeAdvertiseSite Map RSSContact UsAbout Us
 
 
Post on 13/04/2012
Berguru dari Saudara Tua

Pengalaman Jepang
Bisnis Darmawan adalah penyediaan cutting tools mesin otomotif, baik pabrik otomotifnya ataupun pabrik komponennya. Bersama partnernya, Ng Kim Soon, ia mendirikan PT Somagede Indonesia dari tahun 1989 dan beroperasi sampai sekarang.

Perjalanan Darmawan di bidang otomotif dimulai pada awal 1985 ketika ia bekerja di sebuah pabrik otomotif asal Jepang. Dalam tugasnya yang ketika itu mengurus dokumen impor, legal, dan sebagainya, ia melihat masa depan di otomotif. Ia pun banyak belajar dari perusahaan tersebut. “Jadi, bagi orang Jepang itu, yang namanya marah ada dua macam. Kalau mereka benar-benar marah benar, mereka diajak bicara saja tidak akan mau. Tapi ada juga marah yang mendidik. Walaupun mulut memaki, namun hatinya tidak marah, tak dendam, dan tanpa emosi,” ujarnya yang mengaku masih berhubungan dengan mantan bosnya dulu. Ia memutuskan keluar pada tahun 1987 dan mendirikan PT Duta Kalingga, sebuah trading company. Dua tahun kemudian, setelah memegang lisensi agen resmi dari Sumitomo, produsen cutting tools besar dari Jepang, ia pun mendirikan PT Somagede. Tak punya karyawan. Murni hanya ia dan sang partner yang kini menjabat COO PT Somagede.

Tiga Modal Dasar
Kesempatan tampak terbuka lebar baginya untuk bergerak di bidang otomotif. Saat itu, belum ada agen cutting tools. Padahal kebutuhan cutting tools sifatnya rutin. Ketika mesin pabrik aus, dibutuhkan penggantinya segera. Darmawan menawarkan impor barang langsung dari Sumitomo. Kendalanya, ia melihat mereka masih banyak impor untuk cutting tools. Untuk impor, mereka harus punya stok, dan impor itu pasti tidak bisa langsung karena harus melalui principal-nya di sana.

“Misalnya sebuah perusahaan otomotif yang memiliki cabang di Indonesia. Mereka pasti membeli tools dari perusahaan principal di Jepang sana, sehingga ada biaya lagi, seperti administrasi dan pengepakan. Saya mencoba menjual lebih murah,” ujar pria 53 tahun itu.

Masa depan bisnisnya pun ia anggap sungguh cerah. “Populasi manusia dan kendaraan di Indonesia, kira-kira 10 banding 1, sedangkan kalau kita lihat di negara tetangga kita, itu mungkin 3 banding 1. Jadi di sini ruang berkembangnya masih banyak sekali. Jadi saya yakin 20 tahun ke depan pun masih akan cerah. Ya, tentunya bukan hanya saya yang melihat. Orang lain juga melihat hal yang sama, makanya kompetitor juga banyak yang datang kemari,” ungkap penyuka benda seni ini.

Namun hal itu tidak mengkhawatirkannya, karena ia berpendapat, perusahaannya memiliki tiga modal utama. “Satu, kami sudah lebih well established dengan segala macam stock sehingga bisa memberi servis yang lebih baik. Kedua, tenaga engineers yang juga cakap, sehingga bisa selalu memberikan kepuasan kepada pelanggan, seperti memberikan advis yang tepat untuk penggunaan cutting tools. Yang ketiga, dari culture-nya karena perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sini kan kebanyakan engineer-nya orang Indonesia, jadi kami lebih bisa melakukan pendekatan karena memiliki budaya yang sama,” ungkap lulusan Oregon, Amerika Serikat ini.

No Family in Business
Menjalani kesibukan bisnis, Darmawan sudah berpikir untuk pensiun, karena hal itu adalah hal yang tidak bisa dimungkiri. Dengan menjadi komisaris, ia bisa mengawasi bisnis sambil menjalankan aktivitas hobinya, seperti seni. Darmawan tidak melupakan masa mudanya dulu yang penuh semangat dan ambisi. “Saat itu, sepertinya gampang sekali meraih yang di depan mata, tapi pada kenyataannya 90 persen usaha itu harus didapat dengan kerja sangat keras,” ujarnya menekankan pada kata ‘sangat’. Satu prinsip yang dijalaninya dalam berbisnis, ia menghindari berbisnis dengan keluarga. “Saya tidak pernah mau mencampuradukkan keluarga dalam bisnis saya, karena dikhawatirkan bisa muncul konflik kepentingan. Kalau terjadi konflik, saya akan sulit memilih. Jadi lebih baik sendiri-sendiri saja. Untunglah mereka semua beredukasi tinggi dan memiliki jalannya masing-masing,” ujar anak kedua dari sembilan bersaudara ini.
(Teks: Ayu Putri Dewanti • Foto: Rici Linde)

 
 
Rambut Bagi Pria
Tampil keren dengan aksesori alami Anda. Enaknya pria, kita tak perlu menambahkan macammacam untuk melengkapi penampilan. Tuhan telah memberikan aksesori alami untuk dimanfaatkan: rambut wajah. Menurut pengamat mode Muara Bagdja, citr...
Jangan Lupa Sarapan
Rutinitas pria eksekutif menuntut manajemen waktu yang efisien. Namun terkadang kesibukan mempersiapkan materi pertemuan bisnis menyita waktu di pagi hari. Alhasil tidak sedikit pria yang terpaksa melewatkan makan pagi, karena terbata...
Dilahirkan Dipuja Dicemooh Dikenang
Pagi itu, penduduk Edo terenyak. Sepanjang hidup mereka, boleh jadi tidak ada yang pernah melihat benda semacam itu sebelumnya. Kapal-kapal besar, mengeluarkan asap dari puncaknya, dan terbuat dari besi hitam legam. Kapal-kapal itu me...

Esquire May 2013 - Internal Affair - Esquire Style
Esquire May 2013 - Rory Asyari for Man & Toys
See More Video...
Seksi

 
SEKSI (ks): 1. Pesona yang berkaitan dengan daya tarik seksual (bisa apa saja: tubuh, suara, mata) pada manusia dan makhluk lain yang tolok ukurnya bersifat personal. Jadi sah saja kok kalau Anda ingin bilang, monyet itu seksi banget! 2. Tuntutan peran, profesionalisme, rekayasa imaji atas nama kreativitas seni. 3. Beda tipis dengan porno/vulgar, bisa dikaitkan dengan intelektualitas atau hal lain tetapi ujung- ujungnya tak bisa dipisahkan dari akar kata itu sendiri, seks. Sulit dibayangkan Anda berkata, Nenek itu seksi sekali pakai bikini!



UNITY CASA by BRAVACASA

Bazaar Art Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013

AMICA Spring/Summer Festival 2013

9 Summers 10 Autumns

COSMO MEN 2013

Esquire Best Dressed Real Men 2013

Promo Ipad
 
Contact Us | Site Map | Mobile | Free Newsletter | FAQ | Privacy and Terms of Use
Subcribe | Advertise | Recommended Links
© 2009 - 2013 ESQUIRE - Indonesia

MRA Media Group