5 Pembawa Acara, 5 Jalan Hidup, 1 Kisah Pertemanan
Salah satu legenda master of ceremonies (MC) Koes Hendratmo pernah bercerita kepada Esquire, ia menjadi MC di era ‘70-an karena ketidaksengajaan. Sang teman Kris Biantoro, yang sudah lebih dahulu menjadi MC meminta Koes menggantikannya menjadi MC di sebuah acara. Sejak itu, tawaran berdatangan. Beberapa tahun berselang, giliran Koes yang mengenalkan Tantowi Yahya kepada “Ratu Kuis” Ani Sumadi.
Serupa tapi tak sama, di bilangan tahun ‘90-an ketika Erwin Parengkuan harus meninggalkan Hard Rock FM, stasiun radio tempat dirinya pernah bekerja, ia diminta mencari pengganti. Erwin kemudian teringat koleganya Muhammad Farhan, tetapi saat itu Farhan tengah menjadi penyiar di radio lain. “Saya telepon Farhan dan meyakinkan dirinya layak menggantikan saya,” kenang Erwin.
Zaman sudah berubah, dan konteks boleh berbeda, namun benang merah tetap sama: para MC atau presenter ini tahu persis pentingnya memupuk pertemanan. Mereka sepertinya membuang jauh-jauh kalimat penulis Gore Vidal yang berkata,
“Whenever a friend suceeds, a little something in me dies.”
Alvin Adam, Charles Bonar Sirait, Erwin Parengkuan, Farhan, dan Ferdy Hasan paham betul akan hal ini. Memulai karier dalam kurun waktu yang relatif bersamaan, mereka telah lama berteman. Ferdy misalnya masih ingat ketika anak pertama lahir, Farhan saat itu datang ke rumah sakit bersalin. “Padahal sekarang usia anak saya sudah 15 tahun,” ungkap Ferdy.
Kelima presenter yang namanya tetap bertahan hingga kini pun berkaca kepada perjuangan masing-masing individu untuk menggapai kesuksesan kini. Charles misalnya tidak bisa melupakan saat sering bertemu Alvin di stasiun televisi Indosiar saat menjadi teman ‘seperjuangannya’, mengantre untuk proses casting . “Kami sama-sama menjalankan masa-masa yang melelahkan,” kenang Charles.
Hubungan teman antara kelima “ahli bicara” ini pun tidak hanya sebatas kebetulan menjadi teman seperjuangan semata. Erwin melihat hubungan pertemanan yang mereka rajut terjalin dengan alami.
Ia misalnya pernah bersama Ferdy ingin berkolaborasi di dunia financing , Namun dalam beberapa kali pertemuan, kolaborasi itu tidak juga terwujud. “Saya rasa memang ada di pertemanan ini hal-hal yang tidak bisa diatur,” jelasnya.
Sementara mereka berlima sepakat persaingan tidak dilihat sebagai jurang pemisah. Bahkan menurut Alvin kompetisi sehat tentu harus ada. “Kalau tidak, kita justru bisa stagnan. Saya pikir kami saling ‘memantau’ satu sama lain sekaligus menambah value masing-masing,” ungkapnya. Senada dengan Alvin, Charles menyatakan kompetisi telah ‘menyehatkan’ mereka berlima. “Saya rasa kami tak begitu mempermasalahkannya dan tak ada iri hati, karena toh kami memiliki keunikan masing-masing yang tak dimiliki oleh yang lain. Setiap orang punya caranya sendiri untuk ‘jualan’,” jelas Charles.
Soal keunikan ini diamini Farhan. Ia menganggap Erwin sebagai satu pembawa acara TV dan radio yang memiliki teknik siaran yang sempurna. Sementara Alvin ia anggap unggul di ilmu jurnalistiknya. “Ferdy memiliki karakter yang mampu membuat orang di sekitarnya merasa adem, sedangkan Charles adalah satu dari sedikit presenter yang mampu mendokumentasikan ilmu presenting -nya dan bisa membaginya ke orang lain. Itulah yang tidak saya bisa,” jelas Farhan ‘membedah’ koleganya.
Maka, ramailah studio Esquire saat hari itu kelimanya berkumpul bersama. Ada saja perbincangan dan celoteh yang keluar dari kelima presenter ini. Dari obrolan serius hingga yang mengocok perut, terus mewarnai sesi wawancara dan pemotretan berlangsung. “Kami berlima itu lucu. Bahkan pernah diusulkan oleh Farhan untuk membentuk organisasi, bernama Ikatan Presenter Indonesia. Ah , tapi lebih baik tak usahlah berpolitik,” jelas Charles. Ya, bisa-bisa Anda berlima sudah tidak lagi ‘lucu’ saat sudah mulai berpolitik. (Teks: Ajeng Puspita , Ramzy Hasibuan – Fotografi: Adrian Stephanus – Digital Artist: Indarno –Stylist: Alia Husin)
Penasaran dengan profil masing-masing presenter ini? Jangan lewatkan reviewnya di Esquire Indonesia edisi Maret 2012! Download segera edisi digital Esquire Indonesia di eReading (Samsung Tab), Scoop (Apple iPad), WayangForce (Wayangforce.com), atau XL Baca.